LANGIT7.ID, Jakarta - Isu
krisis pangan menjadi salah satu pembahasan High Level Seminar
G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Bali. Kondisi ini menyebabkan harga pangan global naik 20 persen.
Krisis pangan sudah mulai terasa, saat ini sejumlah
harga komoditas naik. Banyak negara yang sudah merasakan dampak tersebut sekarang ini.
Pengamat dari Fakultas Pertanian UGM, Jaka Widada mengatakan, krisis pangan sudah ada ditandai dengan iklim yang tidak menentu, hujan ekstrem, bencana alam dan lain-lain.
Akibatnya petani gagal panen karena kebanjiran atau kekeringan dan gagal panen karena ledakan hama dan penyakit.
Baca Juga: Ahli Pertanian G20 Rekomendasikan Intervensi Teknologi"Itu sebenarnya tanda-tanda krisis pangan. Jumlah penduduk terus naik, sementara pangan yang ada tidak seimbang dengan populasi manusia," kata Jaka dikutip Ahad (17/7/2022).
Untuk menghadapi krisis pangan, kata dia, ada sejumlah upaya yang mesti dilakukan bersama, antara pemerintah dan masyarakatnya.
Mulai dari cara menghadapi perubahan iklim, pengembangan varietas yang adaptif, persoalan pupuk, persoalan perilaku tidak boros dan persoalan regenerasi petani.
Sebelumnya Menteri Keuangan,
Sri Mulyani mengatakan, situasi pada 2022 diproyeksi akan semakin memburuk. Hal ini tentu bukan lah kabar baik.
"Pandemi Covid-19 yang belum selesai serta konflik yang sedang terjadi di Ukraina kemungkinan akan memperburuk kerawanan pangan akut," ujarnya.
(bal)