LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Yayasan AQL Islamic Center, Buya Iswahyudi, mengatakan, salah satu cara meraih keberkahan dalam hidup adalah konsisten mengkhatamkan Al-Qur’an setiap bulan.
Dia terilhami dari program Bahagia Khatam Qur’an yang gencar dilakukan insan dakwah AQL Islamic Center. Program tersebut mulai dicetuskan pada Sya’ban 1443 H dan dipimpin langsung oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), pimpinan AQL Islamic Center.
Kala itu, UBN tengah mengajak umat Islam menyambut ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Dari situ tercetus program Bahagia Khatam Qur’an. Program ini mendapat antusiasme tinggi dari umat Islam di Indonesia maupun luar negeri.
“Ramadhan itu adalah bulan Quran. Untuk bisa maksimal di bulan Ramadhan kita latihan di bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban juga itu bulan Qurra’, bulannya para ahli Qur'an yang memaksimalkan bulan itu untuk khatam Qur’an,” kata Buya Iswahyudi saat berbincang dengan LANGIT7.ID, di Kampus STIQ Ar-Rahman, Jonggol, Jawa Barat, Ahad (24/7/2022).
Baca Juga: Musisi hingga Presenter, Ini Publik Figur yang Gemar Baca Alquran
Melihat antusiasme umat Islam di berbagai kota, AQL lalu menjadikan program itu sebagai salah satu gerakan utama. Majelis Khatam Qur’an pun dibentuk. Banyak jamaah yang khatam Qur’an sembilan sampai sepuluh kali selama Sya’ban.
Ragam testimoni pun berdatangan. Banyak jamaah yang curhat tentang keberkahan setelah konsisten mengkhatamkan Al-Qur’an. Program itu juga turut dirasakan UBN dalam mengembangkan dakwah tadabbur bersama AQL Islamic Center.
“Program-program kita banyak dimudahkan. Keberkahan khatam Qur’an itu sangat dirasakan,” ujar Buya Iswahyudi. Gerakan itu lalu diinstruksikan agar menjadi program wajib di setiap unit AQL.
Dia mencontohkan gerakan sosial AQL Peduli. Seperti pada Khitanan Massal yang sudah digelar di berbagai kota. Sebelum acara dimulai, semua peserta, panitia, dan semua insan yang terlibat harus mengkhatamkan Qur’an secara berjamaah.
Di sisi lain, program tersebut melahirkan satu misi besar. AQL dikenal sebagai lembaga tadabbur Qur’an. Namun, bagi sebagian masyarakat, tadabbur terkesan sangat berat, karena harus memiliki keluasan ilmu dan wawasan.
“Tadabbur mungkin berat bagi masyarakat umum, hal yang lebih mudah adalah bertilawah itu. Tilawah itu ketika dimasifkan, keberkahan Al-Qur’an akan memberikan banyak kebaikan, baik kepada pribadi, masyarakat, bahkan bangsa kita,” ujar Buya Iswahyudi.
Baca Juga: DMI Prihatin, Banyak Umat Islam Indonesia Tak Bisa Baca Alquran
Dengan pendekatan khatam Qur’an, masyarakat bisa merasa lebih dekat, karena tak perlu menghafal dan mendalami. Cukup membaca secara rutin. Bisa menargetkan khatam setiap 10 kali dalam satu bulan, atau minimal satu kali dalam satu bulan.
Itu menjadi langkah awal agar Al-Qur’an terasa semakin dekat di hati masyarakat muslim. Jika rutinitas itu sudah menjadi kebiasaan, tentu akan melahirkan ketidakpuasan. Misal tidak puas hanya membaca saja, tapi lanjut membaca terjemahan dan perlahan menggunakan tadabbur dalam memahami Al-Qur’an.
“Kalau dalam 40 hari, belum khatam juga, itu sudah dianggap lalai terhadap Qur’an. Jadi, minimal satu kali khatam satu bulan. Kalau gerakan itu masif, insya Allah keberkahan bagi bangsa kita bisa dirasakan,” kata Buya Iswahyudi.
(jqf)