LANGIT7.ID - , Jakarta - Fenomena
Citayam Fashion Week (CFW) semakin jadi sorotan publik Tanah Air, bahkan sudah mengglobal. Bermula dari unggahan para konten kreator di TikTok yang mewawancarai muda-mudi dari pinggiran Jakarta yakni Citayam, Bojong Gede, Depok yang berpakaian nyentrik di wilayah
Dukuh Atas, Jakarta Pusat.
Hal tersebut, lalu mengundang remaja lain turut berdatangan bahkan tidak hanya dari wilayah pinggiran, namun remaja Jakarta juga tampak ikut meramaikan lokasi tersebut.
Diketahui, kawasan Dukuh Atas merupakan tempat yang berada di dekat jantung kota, jaraknya yang tidak jauh dari transportasi publik seperti KRL, MRT maupun Transjakarta, membuat remaja-remaja tersebut lebih mudah untuk datang dan nongkrong di kawasan ini.
Baca juga: Fenomena Citayam Fashion Week Bisa Jadi Target PasarDirektur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Elisa Sutanudjaja mengatakan sebetulnya Jakarta memiliki beberapa tempat yang telah membebaskan diri dari kendaraan bermotor dan menjadi plaza pejalan kaki, misalnya Lapangan
Fatahillah Kota Tua (pasca revitalisai 2009 menutup setidaknya 4 jalan), dan Pasar Baru.
Menurut dia, lapangan Fatahillah berada sekitar 200 meter dari
Stasiun Kota. Ongkos pulang pergi ke Stasiun Kota sama dengan ke
Stasiun Sudirman. Meskipun, Fatahillah sudah ada sejak dulu, tapi tempat ini memiliki kerumunan yang berbeda dengan Dukuh Atas.
"Karena Fatahillah tidak didesain sebagai tempat nongkrong. Ia dikelilingi oleh bangunan kolonial dan berada pada struktur kota yang kuat dan simetri. Lansekap Fatahillah menggambarkan suasana formal dan otoritatif, serta lapisan bangunannya pun seragam," kata Elisa dalam situs Rujak Center For Urban Studies yang dikutip Langit7, Senin (25/7/2022) dan sudah mendapatkan izin.
Dia melanjutkan, hampir 1 dekade lalu, ada upaya rakyat untuk mencairkan suasana formal Fatahillah. Berbagai orang membawa tikar dan lesehan mulai dari sore hingga malam di lapangan tersebut, lengkap dengan kelompok PKL di antara Kantor Pos dan Gedung Jasindo.
Namun dengan masuknya agenda revitalisasi Kota Tua yang dibawa oleh korporasi di 2014 dan ambisi untuk menjadi “World Heritage”, kegiatan kerakyatan murah meriah dan nongkorong lesehan tersebut tergusur dan kini Lapangan Fatahillah yang didesain terbuka tersebut mendadak jadi punya jam buka tutup, seperti layaknya Plaza Indonesia.
Baca juga: Marak Citayam Fasion Week, Ini Tanggapan Presiden JokowiBeda halnya dengan Kendal dan Dukuh Atas yang tidak berpagar. Tidak ada jam buka tutup. Jadwal kereta dan MRT terakhir yang membuat tempat tersebut secara alami menutup diri.
Lapisan lansekap di sekitarnya pun beragam dan tanpa dominasi langgam tertentu. Mural oleh Darbotz dan berbagai seniman lain seakan mengundang kaum muda untuk membebaskan diri dari formalitas.
"Di saat bersamaan juga menghadirkan lansekap moderen yang menjadi latar belakang Dukuh Atas. Sementara pada latar depan tak ada satu bangunan masif mendominasi, seperti layaknya Museum Fatahillah," ucapnya.
Lebih lanjut, Elisa mengatakan Dukuh Atas dan sekitarnya tidak ada keseragaman pada permukaan. Lansekap beragam dan bermacam-macam orang yang lalu-lalang dari dan menuju stasiun menawarkan kehidupan kota, atau
urbanity. Tidak hanya itu, kotanya juga menawarkan orang untuk hidup secara individu unik dan berkelompok, dan secara bersamaan kota memungkinkan individu menutup diri atau menjadi pusat perhatian secara bersamaan.
Baca juga: Akankah Citayam Fashion Week Jadi Tren Fesyen Baru?Menurut dia, kehadiran remaja SCBD di ruang publik Dukuh Atas seharusnya mengingatkan kepada semua akan pentingnya ruang publik berkualitas, tanpa pagar dan demokratis. Ruang publik dan transportasi publik keduanya adalah contoh
palace for the people atau istananya rakyat.
"Perpaduannya dapat menghasilkan kreativitas dan pertemuan yang tak terduga. Ruang publik yang demokratis memungkinkan pengguna untuk mengontrol dan menjaga ruang tersebut secara bersama-sama. Apalagi di bawah jutaan mata virtual yang turut hadir lewat ruang publik maya," tuturnya.
(est)