LANGIT7.ID - , Jakarta - Kehadiran
Citayam Fashion Week (CFW) di kawasan
Dukuh Atas, Jakarta Pusat membuat hampir semua kalangan mengunjungi area tersebut.
Tak hanya rakyat biasa, bahkan jajaran selebritas pun ikut turun lapangan dengan beraksi di tempat nongkrongnya
anak Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok (SCBD) itu.
Bila sebelumnya kawasan tersebut dikenal sebagai area bisnis, kini bergeser menjadi ajang gaya dalam fashion.
Baca juga: Ustaz Jeje Zaenudin soal CFW: Ekspresikan Budaya Bermartabat Menanggapi fenomena tersebut,
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Murodi mengatakan Dukuh Atas sendiri merupakan salah satu kawasan informal sehingga siapapun dapat mengakses lokasi tersebut, termasuk komunitas
Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Lebih Lanjut, Murodi mengaku setuju dengan tindakan pemerintah untuk melakukan pembatasan di area tersebut.
"Saya setuju pemerintah membatasi (CFW). Kalau mau bisa diarahkan ke tempat-tempat khusus untuk ruang kreasi bagi anak-anak muda," paparnya.
Murodi melihat kondisi Dukuh Atas saat dilatarbelakangi rasa kangen remaja pinggiran Jakarta akan ruang terbuka yang seharusnya difasilitasi pemerintah daerah asal mereka.
"Terlebih secara teritorial kebanyakan mereka berasal dari daerah Depok dan Bogor. Mereka sebenarnya kangen dan seharusnya Pemerintah Depok dan Bogor memfasilitasnya," ungkapnya.
Baca juga: Khawatir Muncul Benih LGBT di CFW, FKUB Jaktim: Bantu Arahkan ke Hal PositifDia pun berharap ada aksi dan kolaborasi antara Pemerintah Kota Depok dan Bogor dalam memfasilitasi sarana dan ruang untuk berkegiatan seperti
fashion show.Bila ruang resmi atau formal ini diwujudkan pemerintah kota, maka penyusupan komunitas LGBT dapat dibendung.
"Dan itu tidak mungkin disusupi oleh komunitas LGBT karena itu adalah ruang formal," jelasnya.
Tak hanya LGBT, ruang informal seperti area Dukuh Atas berpotensi penyusupan ideologi lain. Maka kemudian, tambah Murodi, pendidikan di rumah menjadi penting.
"Orang tua sebenarnya harus tahu keberadaan anaknya di mana bersama siapa, sehingga bisa mengontrol anak-anaknya tentu dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat," katanya.
Murodi menambahkan, orang tua dapat memanfaatkan teknologi dalam mengontrol anaknya. Sehingga para orang tua tidak mudah dibohongi oleh anak.
Baca juga: Pawai Obor di CFW, Warga Tanah Abang Serukan Tolak LGBTMenurutnya, para orang tua juga harus memahami kondisi ini sebagai proses pencarian jati diri, sehingga anak-anak melakukan apapun untuk mencapai apa yang diinginkan.
"Satu potensi yang bisa dikembangkan menjadi positif juga negatif. Kalau positif fasilitasilah kelompok yang potensial, dan yang negatif jika tidak difasilitasi akan berkembang menjadi aktivitas yang sangat menjatuhkan harkat dan martabat mereka," tutupnya.
(est)