LANGIT7.ID - , Jakarta -
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Masykuri Abdillah menyebut ada perbedaan makna antara kerukunan dan
toleransi beragama.
Menurut Masykuri, toleransi adalah sikap memahami orang lain dan tidak mengganggu orang lain yang berbeda, baik beda ras, kelompok agama. atau kelompok politik.
Baca juga: Masjid “Pinky” Dimaukom Sebarkan Indahnya Warna Toleransi"Toleransi sendiri mencakup dua hal yaitu toleransi negatif (negative interpretation of tolerance) dan toleransi positif (positive interpretation of tolerance)," kata Staf Khusus Wakil Presiden ini, dikutip dari laman UIN Jakarta.
Pemahaman toleransi negatif yaitu membiarkan orang lain beragama. Sementara, toleransi positif yang tidak hanya membiarkan agama seseorang, tapi sekaligus bekerjasama dengan orang lain berbeda dalam mewujudkan
keharmonisan.
“Toleransi positif itulah di Indonesia yang disebut dengan kerukunan. Jadi kerukunan itu lebih dari sekedar toleransi karena juga membangun kerja sama. Inilah alasan mengapa kita sering menggunakan istilah
kerukunan agama bukan toleransi beragama,” jelasnya.
Demi menguatkan toleransi beragama di Indonesia, Masykuri menawarkan empat hal yang harus dilakukan saat ini, yaitu:
Baca juga: Masjid Ibnu Batutah Bali Cermin Keindahan Toleransi Indonesia1. Sosialisasi kerukunan melalui empat bingkai: teologis, sosiologis (kultural), politik kebangsaan dan yuridis yang dilakukan melalui pendidikan dan interkasi sosial.
2. Penguatan status hukum serta anggaran dan kinerja Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di semua wilayah, terutama sebagai mediator perselisihan antarumat bergama.
3. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok lain.
4. Penguatan peran Pemerintah Daerah (Pemda) dalam bentuk pembuatan peta konflik serta pencegahan dan penyelesaian konflik/perselisihan tanpa pertimbangan politis.
Baca juga: 5 Strategi Bisnis Rasulullah SAW: Ada Toleransi dan Beri Kemudahan“Intinya yang harus kita pahami adalah toleransi itu berada dalam wilayah sosiologis (sosiologycal tolerance) tapi tidak dalam wilayah teologis atau keyakinan (teologycal tolerance),” paparnya.
(est)