LANGIT7.ID, Denpasar - Masjid Ibnu Batutah di Nusa Dua, Bali berbeda dengan kebanyakan masjid agung di Indonesia. Bangunan ini berdiri dalam satu komplek khusus yaitu Puja Mandala Nusa Dua, Jalan Kurusetram Br Buala Benoa, Nusa Dua, Bali.
Uniknya, dalam satu komplek tersebut terdiri dari lima rumah ibadah lain yaitu, Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa, Pura Jagatnatha, dan Vihara Buddha Guna.
Tak hanya harmonis berdampingan dengan rumah ibadah lain,
Masjid Batutah juga merangkul semua organisasi Islam di Indonesia dalam setiap kegiatan dan kajian.
Menurut Sekretaris Yayasan Masjid Agung Ibnu Batutah, Jumali Salba, masjid yang diresmikan pada 22 Desember 1997 ini berdiri dengan semangat untuk semua golongan. Sehingga kegiatan yang diadakan pun melibatkan semua organisasi seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, atau lainnya.
Baca juga: Tujuan Umat Islam Harus Salat, Berkomunikasi dengan Allah SWT "Masjid ini bukan masjid satu golongan, jadi diambil dari unsur-unsur ormas muslim seperti Muhammadiyahnya ada, NU-nya ada. Karena memang kita buat seperti itu. Masjid ini tetap memakai bendera jamaah Masjid Ibnu Batutah," kata Jumali saat ditemui LANGIT7 di Bali, beberapa waktu lalu.
Terpenting, lanjut Jumali, kegiatan atau kajian yang berjalan sah menurut syariat dan pemerintah Indonesia. Terkait itu, Jumali mengatakan Masjid Ibnu Batutah memiliki dua imam untuk memenuhi kebutuhan jamaah.
"Kami punya dua imam berbeda, yang pakai qunut dan tidak pakai qunut. Jadi jamaah kita juga tidak mempermasalahkan, 'lho kok nggak pakai qunut ya?'." lanjutnya.
Semangat toleransi juga diberlakukan Masjid Ibnu Batutah di acara kegiatan agama lain. Jumali mengatakan Komplek Puja Mandala memiliki Paguyuban Antar Umat Beragama (PAUB), yang terdiri dari pengurus-pengurus rumah ibadah.
"Kalau ada acara-acara besar, seperti kemarin pihak gereja bersurat ke kami untuk memakai lahan parkir masjid. Jadi kita saling menghargai, karena kita tidak membedakan. Hanya beda keyakinan saja. PAUB ada untuk koordinasi. Di sini benar-benar terjalin persaudaraan," terang Jumali.
Baca juga: Dekat dengan Al Quran, Salah Satu Cara Menghapus Duka "Begitu pun halnya saat salat Jumat, di mana keamanan area parkir dijaga oleh pemuda-pemuda nonmuslim," imbuhnya.
Jumali menambahkan, di area komplek Puja Mandala tidak ada pembagian blok parkir atau lainnya. Sejauh ini Jumali merasakan keharmonisan hidup berdampingan dengan warga nonmuslim lain.
Menurut Jumali saat hidup berdampingan dengan nonmuslim hal terpenting yang mendasari itu adalah komunikasi. Jumali pun menceritakan momen Idul Fitri yang berbarengan dengan kenaikan Isa Al Masih pada Mei 2021 lalu.
"Biasanya kami mengadakan salat id di lapangan. Tapi karena masih pandemi, jadi kami menggelarnya di lapangan masjid. Kala itu berbarengan dengan kenaikan Isa Almasih. Kami koordinasi dengan pihak gereja mengenai pemakaian lapangan sementara," cerita Jumali.
Setelah salat id selesai, jamaah gereja memberi aplaus dan masuk ke ruangan untuk melakukan ibadah.
"Istilahnya kita kan lakum dinukum waliyadin. Kalau kita berpegangan tangan itu, maka tidak akan ada penghinaan dengan agama lain," tutup Jumali.
Kajian Masjid Ibnu Batutah Saat menapaki Masjid Ibnu Batutah, pengunjung akan melihat papan menu kegiatan masjid. Kegiatan di sini dibedakan menjadi empat kategori, yaitu umum, muslimah, irmaiba, serta anak-anak dan pelajar.
Kegiatan untuk umum berisikan tafsir dan tahsin Al Quran, kajian subuh, tematik dan peduli dhuafa.
Baca juga: Pentingnya Jadi Muslim Berilmu, Kunci Islam Rahmatan Lil Alamin Sementara untuk muslimah, Masjid Ibnu Batutah membuka kelas untuk Bunda Mengaji, kajian muslimah, mualaf, dan bina anak yatim. Di kelas Irmaiba, tersedia kegiatan seperti tahsin Al Quran, kajian tematik, khatmil Al Quran, olahraga, dan desain grafis.
Sedangkan untuk anak-anak dan pelajar, masjid yang diresmikan Menteri Agama Tarmizi Taher, saat itu, membuka kelas TPQ, madin atau wustha, khatmil dan tahfidz Al Quran, juga imam muda Maiba.
(sof)