LANGIT7.ID-Jakarta; - Anggota Komisi VII DPR RI Eva Monalisa menilai fenomena sejumlah hotel di Bali yang mengalami kesulitan usaha hingga harus dilego tidak bisa dilihat hanya dari kondisi sektor perhotelan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keseluruhan ekosistem pariwisata, mulai dari infrastruktur, transportasi hingga keberadaan UMKM.
Eva mengatakan kondisi pariwisata di Bali tidak seragam. Ada kawasan yang memiliki tingkat kunjungan wisatawan tinggi dan kapasitas hotel yang besar, namun ada pula wilayah yang tingkat kunjungannya relatif rendah.
“Jadi kita harus melihat wilayah mana yang sedikit wisatawannya dan mana yang banyak wisatawannya,” kata Eva dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu melihat apakah rendahnya kunjungan wisatawan berkaitan dengan infrastruktur, akses menuju destinasi, maupun daya tarik yang ditawarkan masing-masing wilayah. Ia menegaskan sektor perhotelan merupakan bagian dari mata rantai pariwisata yang saling berkaitan dengan infrastruktur, UMKM, ekonomi kreatif, dan berbagai aspek pendukung lainnya.
“Tidak bisa hanya melihat satu sisi, yaitu hotel. Kita harus melihat rangkaian dari pariwisata itu, ada infrastruktur, ada UMKM, termasuk kreativitas di wilayah tersebut yang menjadi daya tarik wisatawan,” ujarnya.
Baca Juga: Saudia Travel Fair 2026 Digelar 27-30 Agustus, Ada Diskon Tiket hingga 40 Persen
Eva juga meminta pemerintah memperhitungkan berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Kondisi global yang belum stabil, bencana, perubahan cuaca, hingga persoalan transportasi disebut dapat berdampak terhadap sektor pariwisata. Termasuk, kata dia, persoalan harga tiket pesawat yang mahal perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan akses wisatawan menuju destinasi.
“Apakah itu juga mengenai biaya tiket yang mahal? Nah, itu juga harus kita lihat. Jadi terkait dengan transportasi juga,” kata politikus PKB ini.
Karena itu, Eva menilai persoalan hotel yang mengalami tekanan bisnis di Bali perlu dikaji secara menyeluruh agar pemerintah tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kondisi satu sektor. Untuk memperbaiki kondisi pariwisata Bali, Eva mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian terkait, pelaku usaha, dan masyarakat.
Menurutnya, kebijakan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan Kementerian Pariwisata. Berbagai persoalan seperti transportasi, regulasi, infrastruktur, akses menuju destinasi, pengembangan UMKM, hingga ekonomi kreatif harus ditangani secara terpadu.
“Kita tidak bisa melihat dari satu sisi. Kita harus melihat semua faktor, mulai dari wisata, regulasi transportasi, infrastruktur, jangkauan ke sana, UMKM, juga kreativitas di wilayah itu apakah menarik bagi wisatawan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ratusan hotel dan vila di Bali terpantau dijual melalui platform jual beli properti onlien dengan variasi harga yang mencapai ratusan miliar rupiah.
Baca Juga: Virus Zika Merebak, CDC Minta Wisatawan AS Tunda Trip ke Bali(zhd)