Penemuan bersejarah kembali tercatat di Semenanjung Arab setelah tim arkeolog berhasil menemukan sebuah masjid kuno yang diperkirakan berusia lebih dari 1.300 tahun di kawasan Al-Ma'mala, wilayah Al-Baha, Arab Saudi. Bangunan bersejarah ini diperkirakan telah berdiri sejak abad pertama Hijriyah, atau sekitar abad ke-7 hingga awal abad ke-8 Masehi.
Penemuan signifikan ini dipublikasikan usai rampungnya musim penggalian keempat di situs Al-Ma'mala yang berlokasi tak jauh dari Al-Aqiq. Komisi Warisan Arab Saudi mengungkapkan bahwa keberadaan struktur masjid ini menjadi kepingan informasi penting untuk memahami dinamika sosial dan evolusi arsitektur Islam pada era-era awal.
Masjid kuno ini dirancang menggunakan bongkahan batu granit yang dipahat secara presisi, dengan dimensi panjang sekitar 16 meter dari utara ke selatan dan lebar 10 meter dari timur ke barat. Di bagian dalam, peneliti menemukan sisa-sisa lapisan plester gipsum yang mengindikasikan bahwa dinding interiornya pernah dipoles dengan rapi.
Rancangan arsitektur bangunan tersebut makin jelas dengan ditemukannya cerukan mihrab penanda arah kiblat, serta tiga akses pintu di sisi timur, barat, dan selatan. Selain itu, sebuah struktur batu berbentuk persegi di sudut tenggara kompleks bangunan ditafsirkan oleh para ahli sebagai fondasi menara masjid.
Ekskavasi di sekitar bangunan utama juga mendapati delapan ruangan pendukung yang dilengkapi fasilitas penyimpanan air dan logistik. Hal ini mengindikasikan bahwa masjid tersebut berdiri sebagai pusat dari sebuah kawasan permukiman yang padat, bukan sebagai struktur yang terisolasi.
Baca Juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 42: Larangan Campur dan Sembunyikan Kebenaran
Keistimewaan lain dari situs ini terletak pada ukiran prasasti berbahasa Arab di batu-batu dinding masjid, baik bagian dalam maupun luar. Tulisan-tulisan pahatan tersebut memuat doa-doa keagamaan serta petikan kalimat yang berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
“Salah satu prasasti yang dipahat pada dinding kiblat memuat doa khusus yang memohon limpahan keberkahan bagi Muhammad ibn Abdullah,” tulis laporan riset arkeologi tersebut. dikutip laman MUI, Jumat (18/9/2026).
Keberadaan inskripsi, mihrab, dan elemen tata ruang khas tersebut makin memperkuat kepastian identifikasi bangunan sebagai tempat ibadah umat Islam. Lebih dari sekadar situs keagamaan, data arkeologis mengarahkan kesimpulan bahwa Al-Ma'mala merupakan kawasan permukiman produktif yang berfokus pada industri pertambangan dan pengolahan logam mulia seperti emas, perak, dan tembaga.
Peralatan pengolahan mineral serta instalasi kerajinan yang ditemukan mengindikasikan bahwa aktivitas penambangan di daerah tersebut telah dimulai sejak era pra-Islam dan mencapai puncaknya antara akhir abad ke-6 hingga abad ke-9 Masehi. Hal ini menempatkan masyarakat Al-Ma'mala dalam fase transisi historis yang krusial menuju era awal peradaban IslamGeliat ekonomi dari sektor pertambangan diperkirakan daya tarik bagi para penambang, pengrajin, hingga pedagang untuk menetap. Berbagai peninggalan domestik seperti tembikar, bejana batu sabun, alu, dan alat penggiling menguatkan bukti adanya kehidupan bermasyarakat yang terorganisir, di mana aktivitas ritual keagamaan berjalan berdampingan dengan denyut ekonomi.
Baca Juga: Kajian Hukum Rokok: Ragam Pandangan Ulama dan Dalil Syariat
Secara geografis, situs Al-Ma'mala berjarak sekitar 13 kilometer di timur Al-Aqiq dan 45 kilometer dari pusat Al-Baha. Lokasinya melintasi rute kuno bersejarah yang dikenal sebagai Darb Al-Feel atau Jalan Gajah—jalur vital penghubung Arab bagian selatan dan utara yang kemudian berkembang menjadi rute perjalanan musafir dan peziarah Islam.
Komisi Warisan Arab Saudi menegaskan komitmennya untuk melanjutkan ekskavasi lanjutan di Al-Ma'mala sebagai bagian dari program pemetaan dan perlindungan cagar budaya nasional.
“Penggalian berikutnya diharapkan dapat mengungkap penanggalan pasti pembangunan masjid, durasi penggunaannya, serta pergeseran fungsinya seiring dinamika ekonomi masyarakat setempat,” ungkap pihak Komisi Warisan Arab Saudi dalam keterangannya.
