LANGIT7.ID, Jakarta - Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki sejumlah keistimewaan. Allah subhanahu wata ala dalam surah At-Taubah ayat 36 menjelaskan keutamaan bulan tersebut. Lalu bagaimana sejarah dan tradisi Muharram di Indonesia?
Bulan Muharram merupakan salah satu nama bulan yang digunakan dalam kalender hijriah. Karena bulan Muharram tersebut merupakan nama bagi bulan pertama dalam kalender hijriah juga bulan Muharram mempunyai arti khusus bagi kaum Muslimin karena pada bulan tersebut terdapat peristiwa bersejarah, yaitu peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah al-Mukarromah menuju Madinah al-Munawwaroh yang dijadikan sebagai dasar penetapan awal tahun dalam Islam.
Pada surat At-Taubah ayat 36 diterangkan bahwa bilangan bulan menurut peredaran bulan ada dua belas. Di antara dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai as-Syahr al-Haram (bulan haram). Ulama menafsir empat bulan tersebut yakni, Muharram, Zulkaidah, Zulhijah dan Rajab.
Bagi kaum Syiah bulan Muharram mempunyai tempat tersendiri dalam tradisi dan merupakan kesempatan beragama yang istimewa. Karena hal ini berkaitan dengan adanya peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram.
Seperti peristiwa terbunuhnya cucu Rasulullah dari Fatimah az-Zahra yang bernama Husein bin Ali bin Abi Thalib bersama pengikut dan keluarganya di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abi Sufyan. Sehingga dikalangan mereka puncak ekspresi keagamaan yang bercorak luapan kesedihan dan sekaligus janji pengorbanan tersebut dikenal dengan sebutan 'Asyura'.
Di dalam Islam 'Asyura' dipandang sebagai hari yang memiliki keutamaan, karena pada hari tersebut Allah telah menentukan banyak peristiwa yang terjadi di muka bumi yang menyangkut pengembangan agama tauhid.
Di daerah pantai Barat Pulau Sumatera misalnya, dikenal istilah 'Tabut', yaitu upacara selamatan besar-besaran berupa jamuan makan, minum dan arak-arakan yang biasa dilakukan oleh penduduk pantai tersebut pada hari Asyura.
Arak-arakan tersebut terbuat dari batang pisang yang disusun rapi dan dihiasi dengan bunga yang beraneka warna, dan apabila upacara selamatan telah selesai, kemudian tabut tersebut dibawa ke pinggir pantai.
Begitu pula di DI Yogyakarta setiap datang bulan Muharram biasanya ada upacara khusus yang dikenal dengan nama 'larungan'. Warga membuat sesajen dengan membuat makanan yang beraneka macam yang diperuntukkan untuk penguasa pantai Selatan (Nyi Roro Kidul) yang diakhiri dengan melepaskan makanan (sesajen) tersebut di pantai yang akan diperebutkan oleh masyarakat yang menyaksikannya.
(bal)