LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Eksektutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menyebutkan, ada tantangan dan risiko yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan
energi bersih.
Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber
energi baru terbarukan (EBT) berkat keaneragamannya. Namun, pemanfaatan dalam mengembangkan potensi
EBT dinilai masih rendah.
"Jadi investasi yang dibutuhkan masih cukup besar. Terutama dari segi bisnis dan daya beli konsumen yang akan menjadi penentu, apakah ini terjangkau atau tidak untuk dibeli masyarakat nantinya," ujar dia dalam diskusi Mereguk Peluang Bisnis Transisi Energi Bersih, Rabu (3/8/2022).
Baca Juga: Dukung Transisi Energi Bersih, Pertamina Usulkan Panas BumiMenurutnya, hal itulah yang masih menghambat perkembangan EBT di Tanah Air. Termasuk, melihat kemampuan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai single buyer di sektor energi ini.
"Sebagian besar sektor EBT itu kan kelistrikan, berdasarkan sistem yang ada itu masih ada di PLN sebagai single buyer. Jadi kunci pengembangannya ada di kesediaan PLN untuk membeli listrik EBT," ujarnya.
Selama ini, listrik dari fossil masih lebih murah dan kompetitif ketimbang EBT yang dapat dipastikan akan lebih mahal. Sehingga diperlukan komitmen dari pemerintah dan PLN untuk bisa memanfaatkan potensi EBT.
"Kuncinya ada di komitmen pemerintah dan PLN, karena PLN diberikan subsidi listrik. Ini positif, betul. Tapi tantangan, peluang, dan risikonya perlu kita ketahui bersama," tambahnya.
(bal)