LANGIT7.ID, Jakarta - Harga gandum dunia masih tinggi akibat konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Menurut data Trading Economics, rata-rata harga gandum dunia mencapai USD780,4 per gantang.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri meminta masyarakat dan pelaku industri pangan untuk terus waspada terhadap potensi krisis pangan global.
“Perang Rusia-Ukraina juga sangat memengaruhi pasokan gandum untuk kebutuhan global. Menurut laporan FAO, sekitar 50 negara menggantungkan sekitar 30 persen impor gandumnya dari Rusia dan Ukraina,” kata Kuntoro baru-baru ini.
Baca Juga: Gandum Mahal, Harga Mi Instan Berpotensi Naik Tiga Kali LipatPerang Rusia-Ukraina, perubahan iklim, dan pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya usai, menyebabkan adanya tren di negara-negara sentra produksi pangan melakukan restriksi ekspor ke negara-negara lain.
Sepanjang Juni 2022, International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyebut ada berbagai kebijakan restriksi ekspor di beberapa negara, baik berupa pelarangan, izin, dan atau pajak ekspor.
Salah satu komoditas dibatasi adalah gandum. Sejumlah negara penghasil gandum, seperti Rusia, India, Serbia, Mesir, Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Kosovo, mengeluarkan kebijakan retriksi. Langkah ini diambil untuk tetap menjaga stabilitas pangan di negara mereka masing-masing.
Kondisi Indonesia masih terbilang aman. Ketersediaan komoditas pangan strategis masih terjamin dan harga relatif stabil.
Baca Juga: Imbas Perang Rusia-Ukraina, Harga Mi Instan Bakal NaikMeski demikian, konflik masih bisa memengaruhi pasar gandum Indonesia karena total produk pangan yang diimpor dari Rusia dan Ukraina pada 2021 sebesar 956 juta dolar AS, di mana 98 persen di antaranya adalah gandum.
Oleh karena itu, Kementan juga memerkuat dan menyediakan pangan lokal alternatif, seperti singkong serta umbi-umbian.
Indonesia merupakan negara kedua dengan nilai impor gandum tertinggi di dunia, karena gandum sulit ditanam di Tanah Air. Total nilai impornya USD2,6 miliar dolar AS (5,4 persen dari total impor gandum dunia) pada 2020.
Kuntoro mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan adalah mensubtitusi kebutuhan bahan pangan impor dengan bahan lokal. Kebutuhan industri pangan olahan berbasis gandum, pemerintah mulai menggalakkan penanaman sorgum yang dapat menggantikan gandum.
Baca Juga: Dewan Dakwah: Peradaban Bisa Maju Jika Akhlak Masyarakatnya Baik“Gandum dapat disubstitusi sorgum yang sangat cocok dikembangkan disini. Pangan lokal dapat menyelamatkan kita dari krisis pangan. Sorgum salah satunya,” tutur Kuntoro.
Meski gandum bukan komoditas pangan utama, kebutuhan gandum di Indonesia sangat tinggi. Data BPS 2019 menunjukkan, konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia adalah 30,5 kilogram per tahun. Kebutuhan gandum terbesar adalah untuk industri produk pangan olahan, seperti mie instan, kue, dan roti.
(zhd)