Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 20 Januari 2026
home sosok muslim detail berita

Menempuh Jalan Terjal Kepemimpinan: Potret Mendalam Andi Amran Sulaiman

tim langit 7 Kamis, 04 Desember 2025 - 09:27 WIB
Menempuh Jalan Terjal Kepemimpinan: Potret Mendalam Andi Amran Sulaiman
Oleh: Alfin Kurniawan

LANGIT7.ID–Tidak banyak pejabat yang perjalanan hidupnya membentuk karakter sekuat pekerjaan yang mereka emban. Bagi Andi Amran Sulaiman, fondasi kepemimpinan dibangun jauh sebelum ia memasuki ruang-ruang rapat kementerian jauh sebelum namanya menghiasi wacana publik soal pangan.

Ia lahir dari tanah Bone, Sulawesi Selatan, tumbuh dalam kultur kerja keras yang menuntut disiplin sejak dini. Dari lingkungan itu, Amran belajar bahwa ketangguhan bukan sekadar sikap, tetapi proses panjang yang ditempa hari demi hari.


Akar yang Membentuk Cara Pandang


Amran tidak pernah diceritakan sebagai sosok yang meniti jalan hidup penuh dramatisasi. Ia tumbuh dari keluarga sederhana di Bone, menempuh pendidikan dengan tekun, dan merawat kedekatan dengan dunia pertanian sejak awal. Pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin membawanya meraih gelar Sarjana Pertanian (1993), Magister Pertanian (2002), hingga Doktor Ilmu Pertanian (2012). Ini bukan sekadar kronologi akademik; bagi Amran, pengetahuan adalah modal moral untuk bekerja lebih besar bagi publik.

Setelah lulus, ia masuk ke PT Perkebunan Nusantara XIV. Di sana ia mempelajari detil dunia agribisnis sebelum mendirikan Tiran Group—perusahaan yang kemudian tumbuh pesat dalam sektor perkebunan, pertambangan, perdagangan, dan teknologi pertanian. Perjalanan bisnis itu membuatnya dikenal sebagai salah satu figur penting dari Indonesia Timur yang memadukan wawasan teknis dengan keberanian mengambil risiko.

Di titik inilah gambaran karakter Amran semakin terbentuk: disiplin, lugas, dan sangat result-oriented. Sifat-sifat itu kelak mempengaruhi gaya kepemimpinannya ketika ia masuk ke pusat kekuasaan negara.


Mandat yang Terus Datang dan Tekanan yang Tidak Pernah Redup


Ia pertama kali dipanggil negara pada 27 Oktober 2014, ketika dilantik sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Kerja. Sembilan tahun kemudian, pada 25 Oktober 2023, ia kembali dipercaya ke posisi yang sama. Pergantian kepemimpinan nasional tidak menggoyahkan kepercayaan itu: Presiden Prabowo Subianto menunjuknya lagi untuk periode 2024–2029 di Kabinet Merah Putih. Bahkan pada 9 Oktober 2025, ia diberi tugas tambahan sebagai Kepala Badan Pangan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/P Tahun 2025.

Rangkaian mandat itu menunjukkan satu hal: Amran berada dalam lingkaran kecil orang yang dipandang mampu mengelola sektor pangan di tengah tekanan nasional yang tidak ringan.

Namun mandat besar hampir selalu datang bersama ketegangan. Ketika hendak dilantik kembali, Presiden Prabowo menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun. Dua puluh satu hari setelah itu, dalam pidato kenegaraan di APEC, target tersebut disingkat menjadi tiga tahun. Empat puluh lima hari berikutnya, Amran dipanggil ke istana dan diminta menuntaskan swasembada dalam satu tahun saja.

Bagi sebagian orang, perubahan target seperti itu bisa menimbulkan kegamangan. Amran memilih sebaliknya: ia langsung menyatakan kesanggupan. Baginya, loyalitas bukan soal tunduk pada pemimpin, melainkan kesediaan menanggung tanggung jawab yang dipikul jutaan petani dan konsumen pangan di Indonesia.

Di sini terlihat salah satu lapisan penting dari karakter Amran: ia terbiasa bekerja di bawah tekanan ekstrem—dan justru menganggap tekanan sebagai bahan bakar.


Tekanan, Keruntuhan Fisik, dan Prinsip yang Tetap Tegak


Tidak banyak menteri yang secara terbuka mengakui efek tekanan kerja pada tubuhnya. Pada dua hari menjelang Ramadhan 2024, Amran mengalami serangan vertigo hebat akibat intensitas kerja yang tinggi. Ia terjatuh dan tidak sadarkan diri selama tujuh jam.

Pengalaman itu menjadi salah satu titik balik personal. Ia menyimpulkan bahwa tekanan, betapapun melelahkannya, adalah ruang pembentukan diri. Jika tekanan tidak datang dari luar, seseorang harus menciptakannya sendiri agar tetap belajar, tetap waspada, dan tetap bergerak. Ini kalimat yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan filosofi kerja yang jarang dimiliki pejabat publik: mengukur diri dengan standar yang lebih berat daripada standar institusi.

Pandangan ini juga menjelaskan kenapa Amran dikenal tegas. Di internal Kementerian Pertanian, penyimpangan tidak ditoleransi. Pendanaan palsu atau permainan kewenangan berarti pencopotan jabatan. Ia bahkan pernah menyatakan bersedia dicopot jika dalam kepemimpinannya hilang seribu rupiah uang negara.

Dalam dunia birokrasi yang sering kali cair, sikap seperti ini membuatnya menonjol—dan juga kontroversial bagi sebagian kalangan yang tidak menyukai gaya kerja keras dan cepat.


Ruang Kerja di Luar Kementerian


Amran tidak hidup dalam satu dimensi. Di luar jabatan negara, ia adalah Ketua IKA Unhas, anggota ex-officio Majelis Wali Amanat Unhas, dan pengajar di Fakultas Pertanian Unhas. Kiprah ini menunjukkan bahwa bagi Amran, kepemimpinan bukan hanya soal mengelola kementerian, tetapi juga soal membangun ekosistem pendidikan, riset, dan jaringan sosial.

Prestasinya dibuktikan lewat beragam penghargaan. Ia menerima Satyalancana Pembangunan bidang Wirausaha Pertanian (2007), FKPTPI Award (2011), dan dua kali dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana—pertama oleh Presiden Joko Widodo pada 2020 dan kedua oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2025. Penghargaan ini tidak hanya menandai pencapaian, tetapi juga menegaskan bahwa kiprah Amran berada dalam lintasan panjang yang konsisten.


Keteguhan, Risiko, dan Masa Depan Kepemimpinan Pangan


Jika melihat perjalanan hidupnya, sulit untuk tidak melihat pola yang sama: kerja keras → tekanan tinggi → ketegasan → hasil. Namun profil mendalam tidak hanya mencatat pola, tetapi juga mempertanyakan maknanya.

Amran adalah tipe pemimpin yang mengandalkan keteguhan moral dan disiplin kerja sebagai fondasi. Dalam era yang sering terjebak dalam pencitraan, tipologi seperti ini membawa warna berbeda. Namun risiko kepemimpinan seperti ini juga nyata: tuntutan hasil cepat dapat berbenturan dengan dinamika lapangan yang kompleks, terutama di sektor pangan yang sangat rentan oleh cuaca, logistik, dan distribusi.

Meski demikian, perjalanan Amran menunjukkan bahwa ia tidak menjadikan jabatan sebagai arena aman. Ia bersedia ditekan, diuji, dan dipertaruhkan. Dalam banyak hal, inilah yang membuatnya terus dipercaya memegang sektor pangan di berbagai periode pemerintahan.

Profil mendalam bukan tentang memuji atau mengkritik, tetapi memotret manusia apa adanya—lapis demi lapis. Dalam diri Andi Amran Sulaiman, lapisan itu terlihat jelas: seorang pekerja keras yang terbentuk oleh tekanan, seorang pemimpin yang berpegang pada integritas, seorang teknokrat yang memilih bekerja dalam diam, dan seorang figur publik yang terus membawa beban besar bernama ketahanan pangan.

Ia mungkin berjalan di jalan terjal, tetapi justru di situlah keteguhannya diuji. Dan sejauh ini, ia tampak memilih untuk tetap berdiri tegak. (Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 20 Januari 2026
Imsak
04:20
Shubuh
04:30
Dhuhur
12:07
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan