LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Pertanian,
Syahrul Yasin Limpo mengatakan harga mi instan di Indonesia bakal naik. Hal itu dikarenakan sebanyak 180 juta lebih ton gandum di Ukraina tidak bisa di ekspor.
"Jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, harganya bisa naik 3 kali lipat itu, maafkan saya, saya bicara ekstrem saja ini," ujar Mentan dalam webinar Strategi Penerapan GAP Tanaman Pangan Memacu Produksi Guna Antisipasi Krisis Pangan Global, dikutip, Rabu (10/8/2022).
Baca Juga: Imbas Perang Rusia-Ukraina, Harga Mi Instan Bakal NaikFaktor utama melonjaknya harga gandum disebabkan
konflik Rusia-Ukraina yang belum usai hingga saat ini. Akibatnya, sektor pangan turut terganggu dan menyebabkan harga gandum kian melonjak.
Berdasarkan data Trading Economics, rata-rata harga gandum dunia mencapai 780,4 dollar Amerika Serikat per gantang. Harga ini naik 9,74 persen dari 2021.
Geopolitik Rusia-Ukraina menyebabkan distribusi gandum kian sulit dan membuat harga menjadi mahal. Terlebih, Indonesia menjadi salah satu negara yang bergantung pada
impor gandum dari Ukraina dan Rusia.
Mentan menyebut ketersediaan gandum di dunia sebenarnya ada. Namun karena konflik global, timbul masalah pada rantai pasok sehingga berimplikasi pada harga gandum.
"Gandumnya ada tapi harganya akan mahal. Sementara kita impor terus, kalau saya jelas tidak setuju apapun kita makan saja, seperti singkong, sagu, sorgum," tutur Mentan Yasin.
Baca Juga: Inflasi Jadi Bukti Ketahanan Pangan Indonesia RapuhHarga Mi Instan Terbaru Agustus 2022Pantauan Langit7.id, disejumlah
e-commerce, harga
mi instan dijual mulai dari Rp2.000 per bungkus. Merek Mi Sedap masih dijual kisaran Rp2.500 hingga Rp3.000 per bungkus. Sementara merek Indomie, mulai dari Rp2.600 hingga Rp3.050 per bungkus untuk semua varian rasa.
Sementara di warung kelontong daerah Tanjung Barat, harga mi instan dengan merek Mi Sedaap dan Indomie berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp3.500. Menurut Tati, salah satu pemilik warung kelontong, harga Indomie satu dus kini bisa mencapai Rp118.000 hingga Rp120.000 isi 40 dari sebelumnya hanya Rp115.000.
"Jadi dari harga Indomie Rp120.000 itu kita bisa jual Rp3.500 biar dapat untung, jadi ambil untung Rp500. Kita nggak bisa jual Rp3.000 lagi," kata Tati, kepada Langit7.id.
Meski belum tiga kali lipat, harga mi instan terus menunjukkan kenaikkan. Belum diketahui juga kapan penerapan harga mi instan tiga kali lipat ini.
Baca Juga:
IDEAS: Krisis Pangan Bayangi Indonesia, Pemerintah Jangan Bergantung Impor Pasar Global
Komoditas Pangan Strategis Dimonopoli Segelintir Negara, Indonesia Bakal Terus Impor(asf)