LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia dan berbagai negara-negara di dunia tengah dibayangi oleh
krisis pangan global.
Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan kelaparan akan terjadi di 20 titik di seluruh dunia selama Juni hingga September.
Pakar pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menyatakan tanda-tanda
krisis pangan itu sudah muncul dan ditandai dengan iklim yang tidak menentu, hujan ekstrem, bencana alam dan lain-lain. Akibatnya petani gagal panen karena kebanjiran atau kekeringan dan gagal panen karena ledakan hama dan penyakit.
“Jumlah penduduk terus naik, sementara kenaikan jumlah pangan tidak seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk," kata Jaka Widada dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: IDEAS: Krisis Pangan Bayangi Indonesia, Pemerintah Jangan Bergantung Impor Pasar Global
Sementara Pengamat pangan IPB, Dr. Sahara, S.P, M.Si, menilai kondisi
krisis pangan saat ini merupakan kondisi terburuk dalam ketahanan pangan dunia. Kondisi ini lebih buruk dibandingkan 2018 lalu.
Lalu, bagaimana upaya yg harus dilakukan rumah tangga untuk bersiap menghadapi kondisi tersebut?
Peneliti
Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Meli Triana Devi, menjelaskan beberapa upaya yang dapat dilakukan rumah tangga dalam menghadapi krisis pangan.
Di antaranya usaha pertanian pangan berbasis keluarga (family farming) dan diversifikasi pangan lokal. Upaya itu bisa dilakukan dengan pengembangan lumbung pangan lokal dan mengadopsi kembali budaya pangan lokal seperti pangan berbahan sagu, umbi-umbian dan lain-lain.
"Masuknya budaya pangan asing berbasis gandum, kentang dan daging alias
westernization of diet, selain tidak sehat secara gizi, juga menggerus kemandirian pangan dan mengancam budaya pangan lokal," kata Meli kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Cara Nabi Yusuf Tangani Krisis Pangan, Jawabannya Ada di Al Quran
Menurut Meli, diversifikasi pangan juga sangat penting. Ini sangat berguna bagi masyarakat dalam menghadapi krisis pangan yang terjadi saat ini.
"Melalui upaya diversifikasi pangan, setiap rumah tangga diharapkan tidak tergantung hanya pada satu jenis saja tetapi dapat memberikan variasi terhadap makanan pokok yang dikonsumsi," ujar Meli.
Family Farming merupakan cara mudah dalam menghasilkan panganan sehat dan berkualitas seperti sayur-mayur, umbi-umbian, aneka buah dan sumber protein hewani termasuk ikan sesuai potensi lokal. Salah satunya bisa dilakukan dengan cara hidroponik tanpa media tanah hingga memelihara hewan ternak yang telur dan dagingnya bisa dikonsumsi.
Baca Juga: Hasil Hidroponik Masjid At-Taqwa Mampu Pasok Kebutuhan Warga(jqf)