LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menilai
inflasi yang terjadi secara global membuktikan rapuhnya
ketahanan pangan Indonesia.
Menurutnya, faktor geopolitik berpengaruh secara signifikan terhadap
inflasi, sehingga menyebabkan
naiknya bahan baku dan bahan energi.
"Itu semua bukan semata-mata faktor ekternal, tapi juga intern kita yang bermasalah. Berbicara komoditas pangan adalah potret konkret ketahanan pangan kita rapuh," ujarnya dalam Diskusi
Kenaikan Harga-harga Menggelisahkan Warga, Rabu (27/7/2022).
Baca Juga: IDEAS: Krisis Pangan Bayangi Indonesia, Pemerintah Jangan Bergantung Impor Pasar GlobalApalagi, sambung dia, gangguan pasokan global terbukti berpengaruh terhadap pangan di Tanah Air. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat bergantung dengan komoditas dari negara lain, seperti gandum untuk bahan baku mie instan dan roti.
"Ini kesalahan historis dan cukup fatal. Kita konsumen terbesar mie instan tapi tidak ada satu pun yang menanam biji gandum, yang seharusnya bisa memasok untuk bahan baku lokal," ungkapnya.
Kerapuhan pangan di Tanah Air ini berdampak pula pada hal terkait lainnya. Pengaruhnya hingga menyebabkan pasokan dan harga yang rentan goyah.
Bahkan, dia juga menduga wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terjadi pada hewan ternak akibat rentannya ketahanan pangan.
"Krisis iklim di Australia ternyata berpengaruh dengan pasokan daging di Tanah Air. Itu juga karena kita bergantung dengan yang bukan dari hasil pangan sendiri."
"Akhirnya kita pilih impor daging dari India. Dugaan saya karena ada perubahan orientasi impor ini maka kita kena wabah PMK. Diduga kuat itu adalah karena kita impor dari negara yang belum bebas PMK," ungkapnya.
Untuk itu, dia berharap agar para pemangku kepentingan dapat membenahi ketergantungan impor, khususnya di sektor pangan. Juga menguatkan ketahanan lokal sehingga bisa memasok kebutuhan dalam negeri.
(bal)