LANGIT7.ID, Jakarta - Ketahanan nasional merupakan suatu kondisi ideal yang dimiliki oleh suatu negara dalam mengembangkan kekuatannya. Sehingga bisa menghadapi berbagai macam ancaman yang datang mengganggu kelangsungan hidup bangsa, baik itu dari internal maupun eksternal.
Deputi Bidang Informasi dan Pengembangan Sistem Kerasipan (ISPK) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr Andi Kasman mengatakan, masjid merupakan salah satu aspek dalam ketahanan nasional yang patut diketahui oleh bangsa.
"Ketahanan nasional itu meliputi ideologi, poltik, dan aspek lain dalam ketahanan nasional kita.Itu adalah ada potensi kemasjidan," kata Dr Andi dalam diskusi via daring bertajuk 'Masjid Ketahanan Bangsa', Senin (15/8/2022) malam.
Ia menjelaskan,potensi kemasjidan merupakan salah satu aspek ketahanan nasional yang memiliki peran vital bersamaan dengan aspek ideologi dan politik. "Bahwa masjid-masjid ini atau ponpes yang memiliki masjid, mereka mendapatkan ilmu agama dan membuat
caracter building yang tangguh," jelasnya.
Baca Juga: Kemegahan Masjid Sultan Ahmed, Simbol Ikonik Kota IstanbulMasjid memiliki fungsi sebagai tempat
ubudiyah (peribadahan),
tarbiyah (pendidikan), dan
Ijtima'iyah (sosial kemasyarakatan) yang tak bisa dipungkiri sebagai aspek ketahanan nasional. "Fungsi masjid yang sangat luar biasa ini merupakan aspek ketahanan nasional kebangsaan indonesia ini," ujarnya.
Pada kesempatan sama, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) DKI Jakarta, H Biem T Benyamin mengatakan, selain sebagai tempat peribadahan, masjid juga punya peran sosial, seperti politik, dan ekonomi masjid.
Peran-peran masjid tersebut menjadi salah satu faktor kekhawatiran pihak Belanda pada zaman dulu sehingga melarang masyarakat Nusantara untuk berkumpul di masjid.
"Pada saat zaman Belanda masyarakat dilarang untuk berkumpul di masjid. Karena pihak Belanda menyadari akan hal tersebut sehingga membuat mereka khawatir," ujarnya.
Baca Juga: Bima Sakti: Salat, Akhlak, dan Orangtua Kunci Kemenangan Timnas Indonesia U-16Haji Biem mengungkapkan tentang pentingnya berpolitik di masjid. Namun politik yang dilakukan bukan dalam bentuk partai melainkan untuk mendorong perekonomian masjid. "Ekonomi masjid ini memang harus didorong bagaimana kita mau berzakat, infak kalau ekonominya kurang ya repot." ujarnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini MABMi tengah membicarakan pembangkitan ekonomi masjid bersama dengan Badan Ekonomi Syariah Dewan Masjid Indonesia (DMI). Yakni mengenai program pengelolaan sampah dan air mineral.
"Dalam pengelolaan sampah kita bekerjasama dengan salah satu lembaga yang bisa mengelola sampah, di mana sampah ini bisa dikelola untuk pupuk dan hewan ternak," jelas H Biem.
"Kita juga bikin air demineral karena memang air ini benar-benar murni, kita sudah proses, lebih bagus, dan lebih murah daripada air lainnya dan buat masjid juga ada nilai ekonomisnya," imbuhnya.
Baca Juga: Fatwa MUI: Praktik Dukun Haram, Membawa ke Kemusyrikan(zhd)