LANGIT7.ID, Bogor - Keindahan Ikan hias memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan pehobinya. Salah satu jenis ikan hias yang cukup diminati adalah Louhan, apalagi beberapa orang meyakini ikan hias yang satu ini dapat membawa keberuntungan bagi pemeliharanya.
Selain kepala jenongnya yang menjadi ciri khas daya tarik, ikan ini juga memiliki beragam jenis yang cukup memanjakan mata. Beberapa di antaranya memiliki corak mutiara, dominasi warna kontras mencolok, dan corak badan seperti tulisan beraksara Cina.
Tidak seperti ikan cupang yang eksistensinya mulai meredup, peluang ikan Louhan di pasaran cukup menjanjikan sejak mulai booming pada tahun 2000-an. Hal inilah yang membuat muslim asal Ciseeng, Bogor tetap bertahan dengan budidaya Louhan sejak 2015.
Syamsudin atau akrab disapa Udin Bule ini mengaku memulai budidaya ikan sejak 2000. Saat itu budidaya ikan yang dilakukannya beragam, mulai dari cupang, manfish dan koki.
Melihat ada peluang yang lebih baik, Udin mulai beralih kepada budidaya Louhan sejak 2015 hingga sekarang. Bahkan satu tahun belakangan ketika dilanda pandemi, ia mengatakan usahanya tidak berpengaruh, justru permintaan di pasaran untuk Louhan melonjak drastis.
“Awal pandemi lumayan ada peningkatan drastis di setahun pertama. Kalau di sini dari umur dua bulan atau ukuran dua sampai tiga jari kita keluarkan. Saya utamakan kepada pelanggan yang beli partai, tapi ada yang beli per ekor dengan harga yang biasanya lebih mahal,” katanya di kanal Youtube, Kisah Tanpa Batas.
Udin menuturkan mulai menyapih anakan Louhan ketika berusia dua bulan dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp70ribu. Sementara ketika ikan sudah masuk display akuarium toko, dengan ukuran yang sama ia bisa memasarkan harganya hingga mencapai Rp250 ribu.
Dari sekian banyak jenis ikan Louhan, seperti Cencu, SRD, Kamfa, dan Bonsai yang berukuran kecil, di toko miliknya ini Udin hanya menyediakan Louhan SRD karena dicintai oleh setiap kalangan, sehingga pemasarannya menjadi lebih mudah.
Selain itu, di toko ikan hias miliknya ia bisa menampung sekitar 160 akuarium polos. Sedangkan akuarium sekatan yang cukup besar bisa menampung sekitar 700 ekor ikan Louhannya.
“(Omzet per bulan) minimalnya Rp10 juta ke atas, bahkan kalau ramai bisa sampai di atas Rp20 juta. Dari sini juga saya bisa menyekolahkan anak ke pesantren sampai bangun kios, bahkan Alhamdulillah anak bisa sekolah S2 dari Louhan,” ujarnya.
![Hidup dari Louhan, Muslim Asal Bogor Sekolahkan Anak hingga S2]()
Awal mula budidaya ikan Louhan ini, Udin mengaku kesulitan untuk mempertahankan daya hidup ikan hias berkepala jenong tersebut. Bahkan, kendala itu masih ia alami hingga sekarang. Setidaknya perbandingan hidup ikan budidaya adalah 2:1, yakni dua ekor mati, dan satu ekor yang mampu bertahan hidup.
Baginya, tidak ada seorang pun yang bisa dikatakan pakar dalam usaha budidaya. Sebab, kematian dari budidaya tidak bisa dihindarkan dan merupakan bagian yang harus diterima.
“Saya budidaya di kolam, kendala di Louhan yang sampai sekarang masih saya alami adalah penyakit berak putih atau borok ini yang biasanya menyebabkan kematian. Jadi tidak ada yang istilahnya jago breeding, tapi kita terus belajar dan belajar dari kegagalan,” jelasnya.
Kunci dalam melakukan budidaya adalah perlunya memahami seluk-beluk bidang yang digeluti, seperti Louhan yang harus memperhatikan kadar keasaman air. Sementara itu, Udin menuturkan faktor genetik adalah yang terpenting untuk menghasilkan anakan Louhan yang memiliki kepala jenong yang besar.
“Masalah ikan jenong itu sepenuhnya genetik, biar pun makannya sudah yang paling bagus, kalau tidak membawa gen jenong besar, ya gak bakalan gede jenongnya. Tapi kalau jenongnya bagus, biar pun makan ala kadar tetap aja bagus,” ujarnya.
Pengiriman ikan hias yang ia lakukan sudah menjangkau luar pulau seperti, Bali dan Papua. Ia berharap bisnis yang digelutinya ini bisa terus berkembang, sehingga dapat memenuhi permintaan pasar yang cukup baik.
“Mudah-mudahan tempat usaha saya bisa terus berkembang, diperbanyak dan semakin berkualitas, karena semakin hari persaingan semakin ketat," kata Udin berharap.
Selera penghobi pun tidak selalu sama. "Sekarang konsumen ingin Louhan yang kepalanya boomhead. Tidak semua louhan bisa boomhead, dari 100 paling hanya 20 ekor yang jadi, karena kebanyakan standar. Untuk harga boomhead ukuran 3 jari itu berkisar Rp300 ribu, kalau di atas 3 jari bisa sampai Rp1 juta lebih,” ucapnya.
(arp)