LANGIT7.ID - Memaafkan, meminta maaf, dan saling memaafkan adalah perintah yang sangat agung dalam Al-Qur’an. Memaafkan tidak hanya menjadikan seseorang mulia di sisi Allah Ta’ala, namun berdampak bagi kesehatan orang yang berani memaafkan.
Dokter Pakar Neuroparenting dr. Aisah Dahlan, CHt, mengatakan, ketika seseorang merasa dizalimi, maka jantungnya akan berdetak tak beraturan. Ini karena hormon stress hingga hormon kekesalan akan muncul. Memaafkan akan meredam hormon-hormon tersebut.
Ada tiga bagian dalam otak teraktivasi saat seseorang memaafkan orang lain. Bagian otak itu yakni bagian dorsolateral prefrontal cortex, inferior parietal bagian kanan, dan precuneus. Bagian otak precuneus mengatur memori dan integrasi informasi bagian luar. Bagian otak inferior parietal terlibat dalam proses visual, auditori, dan sensasi tubuh. Bagian otak dorsolateral prefrontal cortex memampukan seseorang untuk fokus dan mengingat hal-hal tertentu.
“Nah, tiga bagian otak itu akan teraktivasi saat kita memaafkan. Fungsi fungsi otak itu membantu seseorang dalam mengatur emosi dan menyelesaikan amarah dan dendam yang dirasakan mengenai suatu kejadian negatif yang dialami, seperti saat ada yang menyakiti kita. Saat memaafkan terjadi pemulihan yang sangat luar biasa terutama di daerah prefrontal cortex. Kalau kita bisa melihat apa yang terjadi dalam otak, kita akan takjub banget,” kata dr Aisah melalui akun youtube Rumil Al-Hilyah, dikutip Kamis (12/8/2021).
Dokter Aisah mengutip Mayo Clinic dan Telegraph terkait beberapa manfaat memaafkan bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Manfaat-manfaat itu antara lain:
1. Jauh dari Stres dan DepresiSebuah penelitian yang dimuat
Personality and Social Psychology Buletin menemukan, memaafkan secara positif dapat mengurangi gejala depresi. Tak hanya itu, memaafkan akan mengembalikan pikiran positif, dan memperbaiki hubungan. Selain itu, memaafkan juga berkaitan dengan perilaku positif lain seperti sifat dermawan, murah hati dan tidak mudah tertekan.
2. Terhindar dari Penyakit Tekanan Darah TinggiPara peneliti dari University of California, San Diego menemukan, orang yang bisa melepaskan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain akan menghindarkan dari resiko lonjakan tekanan darah.
Dalam proses penelitian, para peneliti meminta 200 relawan untuk memikirkan orang yang telah melukai perasaanya. Setengah dari relawan diminta untuk berpikir penyebab ia marah, dan sebagian lagi didorong untuk memaafkan kesalahan tersebut. Peneliti kemudian menemukan bahwa orang marah mengalami peningkatan tekanan darah lebih besar dibanding orang pemaaf.
3. Menurunkan Risiko Serangan JantungPara ilmuwan membuktikan, permintaan maaf yang ditujukan pada seseorang bisa meningkatkan kesehatan jantung. Orang yang mengalami perlakuan kasar akan mengalami peningkatan tekanan darah yang dapat memicu serangan jantung atau stroke. Namun ketika mendengarkan kata 'maaf', tekanan darah akan menurun kembali.
Tekanan darah yang diukur dalam penelitian adalah tekanan darah diastolik, yaitu tekanan dalam darah antara detak jantung atau tekanan dalam arteri-arteri ketika jantung istirahat setelah kontraksi. Jika terlalu tinggi atau terjadi untuk waktu yang lama, dapat meningkatkan kemungkinan stroke atau serangan jantung.
4. Terhindar dari Risiko Penyalahgunaan Obat dan AlkoholSejumlah penelitian membuktikan bahwa rasa benci, dendam, dan permusuhan dapat memicu tekanan darah tinggi. Stress muncul ketika perasaan kecewa atau tersakiti. Memaafkan adalah sebuah proses perdamaian dengan diri sendiri. Seseorang yang memberi maaf justru akan merasa lebih rileks untuk menerima kondisinya.
Dengan kondisi mental yang lebih rileks, seseorang juga akan terhindar dari risiko penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang. Risiko tersebut umumnya dihadapi oleh para pendendam yang membutuhkan jalan pintas untuk lepas dari beban emosi negatifnya.
(jqf)