LANGIT7.ID, Palembang - Usai pensiun dari profesinya sebagai dosen Ilmu Budidaya Tanaman (Agronomi) Universitas Sriwijaya (Unsri), seorang muslimah asal Kota Palembang, Lidwina Ninik kini memilih berkebun di rumah. Ia melakoni aktivitas yang dikenal dengan julukan urban farm itu selama pandemi.
Ninik yang pensiun sejak Maret 2020 lalu menjatuhkan pilihan pada microgreen. Alasannya budidaya sayur belia ini cepat panen, sebab ia dipetik saat fase kecambah.
“Awalnya setelah pensiun itu tak ada aktivitas di luar rumah. Jadi, saya mulai mengembangkan microgreen tersebut karena ingin mengenalkan peluang sektor pertanian,” ujarnya, Jumat (13/8).
Konsep budidaya sayur belia tanpa pestisida tersebut, menurutnya, langkah awal mendalami sistem tanam dalam rumah. “Jadi, konsep berkebun microgreen itu sangat cocok bagi siapa saja yang ingin belajar pertanian kota,” kata dia.
Untuk memulainya pun cukup mudah. Cukup menyiapkan bibit dan wadah kecil dengan dua media tanam.
“Untuk bibitnya tersedia yang siap semai dan siap panen, dijual per paket seharga Rp80 ribu per kit. Ada bayam, kubis merah, bunga matahari, kailan, kangkung, pakcoy, serta selada merah. Pembudidayaan bibit lokal dari Jakarta,” ucap dia.
![Pensiunan Dosen Tekuni Microgreen, Sayuran Imut Kaya Gizi]()
Sayur belia tanpa pestisida tersebut memiliki keunggulan dan banyak manfaat, seperti gizi tinggi, kaya mineral, betakaroten, dan mengandung vitamin lebih tinggi dibanding sayuran dewasa.
“Hasil panennya bisa jadi makanan sehat bagi tubuh kita. Sayur mungil ini bisa dikonsumsi jadi salad sayur non bahan kimia,” ungkap dia, apalagi saat pandemi seperti sekarang
Sayuran belia tersebut, sambung dia, dapat langsung dikonsumsi pascapanen tujuh hari. Pada saat bertumbuh, sayuran telah mengalami proses katabolisme, atau proses sintesa energi pada bagian yang memiliki zat hijau daun.
“Nah, masa panen itu mulai dari usia tujuh hingga 21 hari. Di waktu itulah daun-daun yang tumbuh itu kaya akan minyak nabati dan protein,” ucapnya.
(arp)