LANGIT7.ID, Jakarta - Ungkapan Insya Allah begitu familiar bagi umat Islam. Tak jarang, ungkapan itu dijadikan alasan ketika seseorang tidak bisa memenuhi janji.
Padahal, menurut Ulama besar asal Mesir, Syekh Mutawalli Sya'rawi, ungkapan insya Allah merupakan kalimat yang menjadi salah satu syariat dalam Islam.
Mengutip Kitab
Anta Tas'al wa Islam Yujib karya Syekh Mutawalli Sya'rawi, segala sesuatu yang menyangkut nanti atau besok, tergolong dalam pengertian "akan datang".
Baca Juga: Siapakah yang Pertama Kali Membangun Kakbah? Ini Jawaban Ulama
Tidak ada satupun manusia yang bisa memastikan segala sesuatu yang akan datang. Persoalan masa depan hanya Allah yang Maha Mengetahui. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, yang artinya:
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi", kecuali dengan menyebut “Insya Allah”. (Al-Kahfi 23-24).
Syekh Mutawalli menjelaskan, sesuatu yang menyangkut masa yang akan datang mencakup lima unsur. Unsur itu yakni pelaku (subjek) , yang diperlakukan (objek), waktu dan tempat kejadian, sebab musabab, serta kekuatan dan kemampuan yang diperlukan untuk pelaksanaannya.
Jika seseorang mengatakan, "Besok saya akan pergi ke tempat Fulan untuk membicarakan suatu persoalan”, orang itu tidak punya jaminan akan tetap hidup sampai besok.
Baca Juga: Gus Baha: Selalu Tawakkal, Manusia Tak Usah Khawatir Masalah Rezeki
Begitu juga yang akan ditemui. Bila besok orang itu pergi, bisa saja tidak tepat waktu, atau tempat berubah. Lalu, bisa saja esoknya orang itu tidak berkemampuan, baik fisik maupun mental. Bisa juga berubah niat untuk melaksanakannya.
“Jadi, manusia tidak kuasa menentukan kelima unsur itu. Semuanya dikembalikan kepada pengaturnya, yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Manusia harus menurut perintah-Nya, mengucapkan kata Insya Allah (Apabila Allah Menghendaki). Apabila Ia tidak kehendaki, pasti rencana gagal,” tulis Syekh Mutawalli.
(jqf)