LANGIT7.ID, Yogyakarta - Iman dan jihad dalam konteks keislaman dan keindonesiaan adalah satu tarikan napas dalam semangat hijrah. Semangat keislaman dan keindonesiaan ini wajib terus dijaga dan direkonstruksi secara terus menerus.
“Nah tugas kita hari ini adalah bagaimana merajut kembali jiwa spirit atau napas yang fundamental ini untuk aktualisassi baru di tengah kehidupan kekinian,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir saat membuka Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Spirit Hijrah Mewujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Indonesia,” Jumat (13/8/2021).
Haedar Nashir menyatakan bahwa hijrah menyimpan proses takhrij (liberasi), takhrir (memerdekakan), dan tanwir (mencerahkan) sekaligus. Dia mengakui, musibah besar pandemi Covid-19 dengan kasus kematian lebih dari 115 ribu orang merupakan problem kemanusiaan yang berat. Di dunia, sudah ada sekitar 4,3 juta orang meninggal.
"Ini Bagaimana kaum muslimin dengan spirit hijrah dan kemerdekaan juga menjadi uswah hasanah dalam pandemi ini. Kalau kita tidak bisa memberi solusi jangan menjadi beban dan justru menambah kontroversi,” katanya sebagaimana dilansir situs web Muhammadiyah.
Dia mengatakan, Islam memaknai bahwa hijrah selalu terkait dengan dua hal lainnya, yakni keimanan dan jihad (perjuangan). Kitab suci Alquran menjelaskannya pada ayat ke-218 Surat Al-Baqarah. Hijrah memiliki korelasi dengan jihad.
"Jadi hijrah, jihad dan iman adalah tiga dimensi yang sangat substansial dalam hal perjalanan secara Islam. Dan akhirnya perjalanan Jihad Nabi yang panjang, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya itu menghasilkan Madinah al Munawarah, bangunan peradaban yang cerah-mencerahkan, yang dari situ Islam kemudian menyinari dunia,” katanya.
Konteks itu, menurut dia, terjadi dalam perjalanan kaum muslimin dalam memperjuangkan kemerdekaan dan dalam usaha-usaha mempertahankannya. Sehingga perilaku mempertentangkan antara Islam dan kebangsaan adalah tindakan tidak bertanggung jawab.
“Di negeri kita juga hijrah dan jihad terwujud ketika kita kaum muslimin melawan penjajah cukup panjang dalam pergumulan yang begitu penuh dengan duka dan derita. Tetapi semangat kaum muslimin dan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan tetap kokoh, kuat dan tidak pernah mati,” jelasnya.
Di antara kaum muslimin, Muhammadiyah merupakan salah satu pelopor yang menurutnya berjasa dalam menggerakkan kebangkitan nasional melalui semangat jihad dalam makna luas. Menurut Haedar, bahkan Muhammadiyah pada masa itu memimpin rakyat berjihad mempertahankan kemerdekaan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ketua PP Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo melawan Agresi Belanda tahun 1946-1949 lewat Askar Perang Sabil Muhammadiyah.
“Artinya bahwa sejak perjuangan kemerdekaan bahkan pasca kemerdekaan kaum muslimin itu berada di satu nafas yang sama antara perjuangan Keislaman dan kebangsaan sehingga tidak ada kontradiksi antara keduanya,” kata Haedar.
Sumber: Muhammadiyah.or.id(jak)