LANGIT7.ID, Jakarta - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak sangat terasa bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sebab mereka juga mengeluarkan ongkos transportasi untuk membeli bahan jualan.
Naiknya harga BBM pun berimbas pada harga pangan di pasar yang memiliki efek domino kepada para pelaku UMKM. Imbas tersebut terasa bagi seluruh kalangan masyarakat.
"Serba salah sih, kalau saya tidak naikan harga dagangan nanti saya rugi. Tapi kalau saya naikan ngerinya konsumen berkurang karena mahal," kata pelaku UMKM, Arifin saat ditemui
Langit7, Jumat (15/9/2022).
Ia mengaku berjualan sejak tahun 90-an. Kenaikan BBM berimbas pada harga pangan di pasar dan ongkos bensin yang dirinya keluarkan untuk membeli bahan pokok.
Baca Juga: Aksi Demonstrasi Kian Meningkat, Negara Diminta Lindungi Ruang Berpendapat"Biasanya saya jual nasi goreng per porsi ini Rp12 ribu tapi karena BBM naik harga di pasar juga naik, yasudah saya mau tidak mau buka harga Rp15 ribu. Kalau ada yang minta harga normal takarannya saya kurangin," jelasnya.
Usaha yang ia rintis ini telah berpindah-pindah lokasi, mulanya ia membuka di daerah Sudirman kini di Jalan Setiabudi Tengah, Jakarta Selatan. Jarak antara kediamannya ke lokasi usaha dan pembelian pangan di pasar menjadi alasan utama naiknya harga dagangan yang ia tawarkan.
"Jarak dari rumah ke sini bolak-balik kan dihitung, belum lagi bensin buat ke pasar juga, bayar parkir dan lain-lain. Itu sih mau nggak mau ya saya naikan dari pada nggak ada untung," ujarnya.
Baca Juga: Tips Tetap Untung Bagi Pedagang di Tengah Kenaikan Harga BBM(zhd)