LANGIT7.ID, - Jakarta - Berawal dari niat menghidupkan kembali makna rajut di tengah
industri fashion modern. Ravi Febrian, pemuda asal
Garut, Jawa Barat memutuskan terjun ke dunia bisnis. Tujuh tahun lalu, Ravi memulai bisnis dengan mengusung jenama Ideku Rajut.
Keputusan itu bukan tanpa risiko, sambil bergulat dengan realitas bisnis yang harus bertahan tanpa modal besar, tanpa jaringan luas, bahkan tanpa tahu ke mana harus melangkah.
Hanya bermodalkan satu mesin rajut manual tua dan keahlian, Ravi membangun bisnisnya.
Baca juga: CEO Buttonscarves Masuk Daftar Tokoh Berpengaruh di Industri Fashion Global“Membawa rajut ke ruang yang lebih modern, tapi tetap punya jiwa adalah visi saya sekarang," kata Ravi Febrian, Founder Ideku Rajut dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (18/10/2025).
Pengalaman bertahun-tahun bekerja dan belajar di
industri rajut, Ravi mampu melihat potensi besar dalam bisnis tersebut.
“Benang itu soal
kesabaran. Ia akan menunggu sampai kita tahu ingin jadi apa,” ungkap Ravi.
Meski terdengar sederhana, namun di sanalah seluruh filosofi bisnis Ideku Rajut berakar.
Bagi Ravi, rajut bukan hanya keterampilan, tapi seni yang sarat makna, setiap simpulnya menyimpan waktu, ketelitian, dan perasaan manusia.
Ravi mengaku menemui tantangannya yang tak sedikit, mulai dari perubahan tren, jumlah
pengrajin yang makin sedikit, langkanya mesin raut manual, hingga modal yang harus dikumpulkan perlahan.
"Butuh usaha, perjuangan dan waktu bagi Ideku Rajut untuk benar-benar berkembang. Dari ciput rajut, cardigan wanita, kaos kaki, leging, topi kupluk, hingga manset lengan panjang, produk-produk buatannya akhirnya berhasil mencuri perhatian pasar," lanjutnya.
Baca juga: Brand KHDJH, Wujud Nyata Anak Muda Berdaya di Industri Fashion Muslim LokalDalam proses produksinya, Ravi memilih bahan dari pengrajin benang dan kain di Bandung, kemudian mengolahnya di Garut.
Pria yang memulai bisnisnya di usia 18 tahun ini melibatkan warga sekitar seperti ibu rumah tangga, pemuda, hingga para ayah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Setiap ciput, manset, dan cardigan dirajut menggunakan knitting technology fabric dan telah bersertifikasi OEKO-TEX, menandakan produknya aman, bebas bahan kimia berbahaya, dan ramah lingkungan.
Salah satu keistimewaan dari produk Ravi adalah harganya yang cukup terjangkau, tak ada satu pun produk Ideku Rajut yang dijual di atas Rp100.000.
Meski harganya terjangkau, Ravi tetap kemasan yang elegan dengan menggunakan pouch sablon mika berdesain estetik.
Namun di balik keindahan setiap produk rajutnya, ada malam-malam panjang yang Ravi habiskan di depan mesin rajut.
Ada masa ketika target penjualan tak tercapai, bahan sulit didapat, bahkan mesin tiba-tiba rusak di tengah produksi besar-besaran.
Baca juga: Sisi Gelap Industri Fashion: Ketika Barang Mewah Jadi Beban LingkunganRasanya sempat kecewa pada diri sendiri, tapi setiap kali ingin berhenti, Ravi selalu teringat ada belasan keluarga yang kini menggantungkan hidupnya di usaha ini.
Semangat itu menjadi bahan bakar yang mendorong setiap langkah berikutnya.
Lalu apa rahasia Ideku Rajut bisa bertahan?
"Rahasianya ada pada konsistensi kualitas dan keberanian memanfaatkan ruang digital," ungkapnya.
Melalui Shopee, Ravi menemukan cara untuk membawa produk lokalnya ke panggung yang lebih luas. Tempat belajar, mulai dari cara promosi, mengelola stok, hingga membangun hubungan dengan pelanggan.
Kini, di usianya yang baru 25 tahun, Ravi telah menjadi sosok inspiratif yang membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing tanpa kehilangan jati diri.
Melalui Ideku Rajut dan dukungan program dan fitur dari Shopee, ia bukan hanya membangun bisnis, tapi juga merajut kehidupan bagi dirinya, keluarganya, dan banyak orang di sekitarnya.
Baca juga: Gempar di Paris: Fesyen Syar'i Indonesia Hebohkan Industri Fashion Global(est)