LANGIT7.ID, Jakarta - Sebelum merdeka, ada banyak kesultanan di Tanah Nusantara seperti di Aceh, Madura, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga Maluku. Rektor Universitas Islam
Indonesia Internasional (UIII) Prof Komaruddin Hidayat mengatakan, watak asli ummat Islam Indonesia sejak dulu sangat toleran dan moderat.
Sejumlah kesultanan tersebut nyatanya, ikhlas bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk meraih kemerdekaan dan kesejahteraan. Indonesia menjadi rumah bersama bagi kesultanan-kesultanan tersebut.
Baca Juga: Benarkah Ada Sahabat Nabi yang Pernah Sampai ke Indonesia?Maka itu, kata dia, para elite politik mulai dari pejabat lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak boleh melupakan potongan sejarah tersebut. "Kalau sampai harapan ini dikecewakan, mereka juga toh tahu diri, dulu saya mendingan merdeka saja, dan itu yang terjadi di Eropa," kata Prof Komaruddin dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah, Jumat malam (13/8/2021).
"Negara-negara kecil penduduknya 5 juta, 10 juta. Itu juga terjadi di Arab, juga terbagi menjadi negara-negara kecil," ungkapnya.
Persatuan yang ditunjukkan kerajaan-kerajaan
Islam di Nusantara menunjukkan watak umat islam Indonesia sangat moderat. Padahal, jika para kerajaan ingin membentuk negara sendiri sangat bisa. Pintu terbuka lebar tetapi mereka tidak melakukan hal tersebut.
Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dimanjakan dengan kekayaan alam yang sangat kaya. Tanah nusantara sangat subur. Mereka tidak harus berjuang menghadapi panas matahari seperti di padang pasir atau melawan dingin butir-butir salju seperti di kutub.
"Jadi, penduduk
Nusantara dimanjakan alam. Kita banyak waktu longgar, sehingga muncul seni-seni. Indonesia kaya sekali seni yang dikaitkan ritual keagamaan karena alamnya mendukung seperti itu," ucapnya.
Baca Juga: Haedar Nashir: Keislaman dan Keindonesiaan Tak Bisa DipertentangkanSelain moderat, watak umat Islam Indonesia sangat toleran. Mengingat, penduduk Nusantara tidak perlu berebut sumber air dan padang rumput seperti orang Arab. Nusantara juga dihuni ragam suku dan budaya. Namun, bisa hidup berdampingan tanpa ada perang saudara.
"Orang Arab itu berebut sumber air dan padang rumput, kita kan tidak perlu, makanya di antara mereka perang itu biasa. Mereka berebut
ghanimah. Dulu sumber air, sekarang sumber minyak. Tapi kita kan tidak. Makanya budaya kita, budaya gotong-royong, rukun," ujarnya.
Baca Juga: Pebisnis Islam Harus Paham Prinsip Dagang Sukses ala Rasulullah SAW Islam dan Kebangsaan Selalu Beriringan(asf)