LANGIT7.ID - Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Indonesia berhasil menjadi bangsa yang merdeka yang diproklamirkan oleh Ir Soekarno dan Moh Hatta.
Kala itu, kendati mendapat halangan dari Jenderal Nishimura dari Angkatan Darat Jepang, tetapi malam menjelang 17 Agustus 1945, para pejuang kemerdekaan mendapat bantuan dari Laksamana Maeda dari Angkatan Laut Jepang. Sebenarnya, Laksamana Maeda pada masa berkuasanya tidak ikut menyebarkan janji kemerdekaan dari Perdana Menteri Koiso, 7 September 1944, Kamis Pahing, 18 Ramadhan 1363, karena wilayah kekuasaan Kaigun di luar Jawa dan Sumatera.
Walaupun demikian, pada malam 17 Agustus 1945, justru Laksamana Maeda mengizinkan rumahnya untuk dijadikan arena perundingan tentang teks proklamasi yang akan dibacakan esok hari. Namun, para pembesar balatentara Jepang tidak ikut serta.
Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pagi waktu sahur di bulan ramadhan, teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta, dan ditulis dengan tangan oleh Bung Karno, kalimat pertama diambil dari preambule atau Piagam Jakarta 22 Juni 1945:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia."
Semula Bung Karno merasa cukup dengan teks tersebut. Atas usul Bung Hatta ditambahkan dengan kalimat kedua:
"Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."
Setelah selesai, teks proklamasi ditawarkan kepada hadirin untuk disetujui atau tidaknya. Ternyata secara serentak menyatakan setuju.
Oleh karena itu ditawarkan pula agar seluruh pihak yang hadir ikut serta menandatanganinya, seperti proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat juga penandatanganan teks proklamasi ditawarkan kepada enam pemuda.
Namun atas usul Sayuti Melik, agar teks proklamasi hanya ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. Usul ini diterima secara aklamasi. Kemudian, teks proklamasi yang akan dibacakan, diketik terlebih dahulu oleh Sayuti Melik dan selanjutnya ditandatangani oleh kedua proklamator.
Setelah selesai pada pukul 5 pagi, para peserta saksi penulisan teks proklamasi meninggalkan rumah Laksamana Maeda.
Pada pagi harinya, sekitar pukul 7 pagi sudah terkumpul rakyat yang bersenjata bambu runcing dan senjata tajam lainnya, menunggu dibacakannya teks proklamasi, di depan rumah kediaman Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.
Garnisun tentara Pembela Tanah Air (Peta), sejumlah tujuh puluh prajurit, dan lima perwira, siap menghadapi segala kemungkinan, andai bala tentara Jepang mencoba menggagalkannya. Oleh karena itu, ditutuplah jalan yang menuju Pegangsaan Timur 56.
Namun sayangnya, Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, banyak dilupakan oleh sebagian umat Islam, terjadi pada 9 Ramadhan 1334 H, Jumat Legi jatuh pada 10 hari pertama Ramadhan yang dalam Islam 10 hari awal Ramadhan menandakan Rahmat Allah yang Mahakuasa.
Namun Setiap 9 Ramadhan, umat Islam tidak mengadakan syukuran kemerdekaan Indonesia. Dan umumnya, menyambutnya tanpa dihubungkan dengan pengertian Ramadhan sebagai puncak keberhasilan perjuangan ulama dan santri membebaskan bangsa, negara, dan agama dari penjajahan Barat dan Timur.
Sumber: Buku Api Sejarah Jilid 2. Karya Ahmad Mansur Suryanegara halaman 162-164.(jqf)