LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid yang berada di Jembatan Lima Jakarta Barat, Masjid Jamik Al Mansur, pernah menjadi markas para pejuang kemerdekaan dari Tanah Betawi. Bangunan rumah ibadah ini pertama kali dibangun pada 1717 mengambil nama seorang guru, Muhammad Manshur bin Imma Abdul Hamid.
Muhammad Manshur dikenal juga sebagai Guru Mansur merupakan ulama yang diakui oleh masyarakat sekitar. Namun dia bukanlah pendiri pertama masjid Jamik Al Mansur.
Masjid Jami Al Mansur dibangun pada 1717 berdasar inskripsi yang terdapat di menara masjid yang bertuliskan tahun 1330 Hijriah atau 1717 Masehi. Masjid ini dibangun oleh Abdul Mihit atau Abdul Mukhit, putra Pangeran Cakrajaya dari Kerajaan Mataram Islam.
BACA JUGA: Masjid Agung Al-Azhar Jakarta Buka Aktivitas Shalat BerjamaahAwalnya masjid ini bernama Masjid Jami Kampung Sawah yang kemudian berubah nama, dengan mengambil nama Guru Mansur. Sang guru sendiri merupakan keturunan Abdul Mukhit yang tentu masih memiliki ikatan darah dengan Kesultanan Mataram Islam yang tahun 1628-1629.
Guru Mansur sendiri juga merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Pernah pada 1948, dia sengaja menaikkan Bendera Merah Putih di menara Masjid Jamik Kampung Sawah dan membuat Belanda murka dan menahan tokoh tersebut lantaran tak mau berdiplomasi.
Pada 1925, Guru Mansur menentang keras pemerintahan Belanda yang saat itu akan membongkar Masjid Al Makmur di Cikini. Darinya pula masyarakat Betawi memiliki slogan perjuangan 'rempug' yang berarti bersatulah.
Banyak peristiwa penting bersejarah terjadi di Masjid Jamik Al Mansur. Masjid ini pernah menjadi tempat berlindung dan markas para pejuang kemerdekaan. Peristiwa penting tersebut terjadi ketika baku tembak antar milisi kemerdekaan dengan tentara NICA yang masuk melalui Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada 4 Safar 1186 Hijriah, salah satu ulama besar berkunjung ke masjid ini, yaitu Muhammad Arsyad Al Banjari yang saat itu baru pulang dari Mekkah dan singgah di Betawi. Beliau diminta untuk memperbaiki arah kiblat masjid.
Pada 1937, Masjid Jamik Al Mansur dipugar dan diperluas pada periode Guru Mansur. Perubahan nama masjid didasarkan untuk menghormati dan mengenang perjuangan Guru Mansur yang dilakukan pada 1967, setelah beliau wafat. Kemudian pada 1980, Masjid Jami Al Mansur ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
(bal)