LANGIT7.ID, Jakarta - Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan proses transformasi dan internalisasi nilai-nilai ajaran Islam terhadap peserta didik, di mana proses tersebut begitu dipengaruhi oleh peran serta kualitas dari guru atau seorang alim.
KH Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Adabul 'Alim Wa Al Muta'alim menjelaskan, setiap perbuatan yang disertakan nilai etika, itu merupakan indikator diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah Ta'ala. Termasuk kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya ada interaksi antara alim dan santri atau guru dan murid.
Dilansir dari Digital Library UIN Sunan Gunung Djati karya Anwar Rosyadi, berikut ini beberapa etika seorang alim berdasarkan Kitab Adabul 'Alim Wa Al Muta'alim, yaitu:
1. Senantiasa Mendekatkan Diri kepada Allah Ta'alaAllah Ta'ala memerintahkan agar umat manusia berpengetahuan luas, sehingga manusia dapat memanfaatkan potensi yang terdapat di alam semesta, yang telah Allah Ta'ala sediakan bagi hambaNya.
Baca Juga: Wakil Ketua MPR: Pesantren Bisa Cegah Kemerosotan Moral MasyarakatDalam Islam, ilmu apapun yang dikuasai tidaklah membuat manusia itu menjadi sombong, akan tetapi ilmu itu harus membawa kedekatan diri kepada Allah Ta'ala.
Seorang alim hendaklah sadar bahwa potensi, minat, bakat, pengetahuan terutama pengetahuan agama merupakan salah satu karunia dari Allah Ta'ala.
2. Takut Murka Allah Ta'alaApabila seorang hamba takut kepada murka, siksa, serta azab Allah Ta'ala maka apapun yang membuat Allah murka, wajib untuk menjauhinya, termasuk orang yang berilmu. Sebab rasa takut ini juga memiliki keutamaan, salah satunya memeroleh kemenangan.
Hal tersebut karena seorang muslim hidup dalam pertarungan antara haq dan batil, sehingga orang yang takut kepada murka Allah Ta'ala pasti dia akan meraih kemenangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Surat An-Nur Ayat 52:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Artinya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An Nur: 52).
3. Wara'Wara' secara sederhana diartikan meninggalkan perkara haram dan syubhat. Para ulama juga kerap mengartikan wara' dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan mubah yang berlebih-lebihan. Selain itu, juga meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya.
Rasulullah Saw pernah menyampaikan nasihat berharga pada Abu Hurairah, dalam hadits sahihnya Rasul bersabda:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Artinya: “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR Ibnu Majah nomor 4217).
4. Zuhud Zuhud ialah mengalihkan kesenangan dari sesuat kepada sesuatu yang lebih baik, Imam Al-Ghazali menerangkan zuhud yang berkaitan dengan harta duniawi. Adapun hakikat zuhud itu sendiri adalah kondisi batin yang tidak tercemar oleh ambisi harta duniawi.
Hal ini diangkat Imam Al-Ghazali ketika menceritakan kezuhudan ulama besar dalam Islam Imam Malik radiallahu anhu (Ra) yang kaya raya dan dermawan. Imam Malik Ra adalah orang yang zuhud di mana harta duniawi tidak singgah di dalam hati dan pikirannya. Sementara dia adalah ulama besar yang kaya raya.
وليس الزهد فقد المال وإنما الزهد فراغ القلب عنه ولقد كان سليمان عليه السلام في ملكه من الزهاد
Artinya, “Zuhud bukan berarti ketiadaan harta duniawi. Zuhud merupakan kesucian hati dari harta duniawi. Nabi Sulaiman sendiri di tengah gemerlap kekuasaannya tetap tergolong orang yang zuhud,” (Imam Al-Ghazali, I/43).
5. Tawadhu Etika selanjutnya yang harus ada pada seorang alim ialah tawadhu atau rendah hati. Seorang guru hendaknya memiliki sifat tawadhu sebab tawadhu mempunyai keutamaan salah satunya terhindar dari sifat sombong,
Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat Al-Isra ayat 37 yang berbunyi:
وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا
Artinya: "Dan janganlah kalian berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kalian tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS Al-Isra: 37).
Baca Juga: Hanny Kristianto: Koh Steven Sosok Pemimpin Dermawan, Sabar, dan Ikhlas(zhd)