LANGIT7.ID, Jakarta - Ada cara untuk bisa mengukur kadar kekuatan iman seseorang. Pendakwah
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, salah satu caranya dengan mengecek getaran hati.
Menurutnya, getaran hati itu bisa diukur kala mendengar waktu panggilan salat,
adzan. Setiap orang memiliki kekuatan getaran yang berbeda-beda.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfal: 2).
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat: Allah SWT Cemburu dengan Orang Mengejar Dunia"Waktu disebutkan nama Allah itu saat azan. Maka waktu panggilan azan itu berlangsung selama 24 jam di seluruh muka bumi, itu tanda langsung dari Allah kepada orang-orang untuk beriman," jelas dia dikanal YouTubenya, Rabu (19/10/2022).
Menurutnya, saat azan berkumandang akan menimbulkan kekuatan getaran hati yang berbeda-beda untuk setiap orang. Kekuatan getaran inilah yang bisa dicek dan menjadi cara untuk mengukur kekuatan iman.
"Nah itulah iman dan mesti dicek, karena ada orang yang diwaktu pagi getarannya kuat tapi ketika sore ada yang getarannya hilang," katanya.
Pendiri Quantum Akhyar Institute ini menjelaskan, tingkat getaran pada hati pada setiap orang ada yang kuat, standar, dan lemah.
"Kalau azan dikumandangkan maka dia ingat, itu standar. Ada orang yang jauh sudah siap sebelum waktu panggilan azan, dia bangun sebelum waktu subuh, semisal pukul 02.00 dan melaksanakan tahajjud serta wirid, ini tanda imannya kuat."
"Ada yang modus dan tidak sedikit orang yang seperti ini. Yaitu orang-orang yang suka menunda waktu salatnya karena modus kelelahan dan sebagainya, ini tandah lemahnya iman," tambahnya.
Dai berusia 38 tahun ini mengingatkan agar umat Islam tidak lalai untuk mendirikan salat. Dia juga mengajak kaum muslimin tidak pernah lelah dalam mengejar urusan akhiratnya.
"Apa yang membuat Anda lelah dalam urusan dunia sehingga lupa dengan akhirat. Bukankah Anda ingin nyaman dihisab di akhirat, maka lelah di dunia dan nikmatlah di akhirat, tapi kalau menjadikan akhirat lelah dan dunia nyaman, maka suasana nanti ketika pulang akan terbalik," ujarnya.
(bal)