LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang memiliki kemampuan bahasa paling banyak alias poliglot. Paling tidak bisa menguasai bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah.
Fakta tersebut diafirmasi oleh survei yang dilakukan oleh SwiftKey pada tahun 2015. Survei itu mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama negara trilingual, di mana 17,4 persen penduduknya menggunakan kombinasi tiga bahasa untuk berkomunikasi.
Dari fakta itu, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Muhammad Lutfi Ramadhani, melihat bahwa orang Indonesia punya potensi besar dalam penguasaan bahasa. Hal itu membuka peluang bagi orang Indonesia untuk belajar bahasa lebih banyak lagi.
Namun, menurut pemuda yang akrab disapa Dhani ini, potensi itu belum dimaksimalkan. Ada banyak kendala seperti akses belajar dan biaya yang tidak murah. Maka Dhani berinisiatif menghadirkan kursus bahasa asing murah secara daring lewat platform bernama Linguo.
Baca Juga: Mualaf Asal Semarang Fasilitasi Para Difabel dengan Bimbel Anagata
“Buat mereka yang di daerah-daerah terutama, dan juga pilihan bahasa kok cuma itu-itu aja. Akhirnya, kita ciptakan Linguo ini biar bisa sedikit membantu atau berkontribusi supaya lebih banyak orang Indonesia yang bisa menjadi poliglot yang bermanfaat nanti di kemudian hari,” kata Dhani selaku CEO Linguo kepada
LANGIT7, Rabu (19/10/2022).
Lutfi Ramadhani menceritakan, Linguo awalnya berdiri dari keiseingan, sama sekali tidak terencana. Itu Bermula saat dirinya belajar bahasa Jerman pada 2017 lalu. Setelah belajar bahasa Jerman selama tiga tahun, dia merasa ada sesuatu yang kurang.
“Tapi kok kayaknya ilmunya berhenti doang nih engga manfaat kalau engga disalurkan. Akhirnya, kepikiran untuk membuka kelas. Waktu itu cuma satu bahasa, bahasa Jerman,” ungkap Dhani.
Kendati berdiri tanpa direncanakan, pengelolaan Linguo sangat serius. Saat ini telah membuka kelas kursus online untuk 46 bahasa. Di antaranya adalah enam bahasa standar PBB. Menariknya, Linguo juga membuka kursus beberapa bahasa yang jarang ada kursusnya seperti bahasa Ibrani, India, Yunani hingga berbagai bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Baca Juga: Fasih Bahasa Asing Lewat Kursus Online, Bisa Pakai WhatsApp Juga Lho!
“Karena salah satu visi kita adalah ingin melestarikan budaya atau bahasa beberapa daerah di Indonesia, apalagi semakin jarang dipakai anak-anak muda,” ujar Dhani.
Keunggulan LinguoDhani menjelaskan, keunggulan linguo ada pada metode belajar. Ada kelas privat dan kelas reguler. Siswa bisa memilih dengan harga yang terjangkau, hanya Rp150 ribu per dua bulan.
Metode yang digunakan adalah pendekatan anak kecil saat belajar bahasa. Anak kecil belajar bahasa mulai dengan mendengar percakapan orang sekitar. Dimulai dari mendengar, lalu menirukan, setelah itu mengulangi. Bukan dengan teori atau grammar yang rumit.
Setelah itu, anak-anak kecil akan mencoba menirukan setiap kalimat lalu mengulang-ulang kalimat tersebut. Susana kelas juga dibangun seperti tidak sedang belajar.
Baca Juga: Antusiasme Warga Suriah Belajar Bahasa Indonesia
“Jadi, proses itu yang kemudian menjadikan anak kecil yang belajar bahasa Ibu, lebih cepat dan efektif tanpa harus belajar grammar dan seterusnya,” ucap Dhani.
Selain itu, metode yang digunakan menekankan pada komunikasi. Secara umum, orang belajar bahasa dua tujuan yakni ingin lulus ujian (formal) dan berkomunikasi dengan orang asing. Belajar bahasa asing tidak sekadar mengejar sertifikat saja, tapi bisa digunakan dalam berkomunikasi.
“Selain kelas bahasa, ada program turunan seperti penerjemahan. Jadi, yang kelihatan mungkin hanya bahasa, tapi sebetulnya ada beberapa produk turunannya. Belum kita launching resmi tapi sudah kita jalankan beberapa waktu ke belakang,” ungkap Dhani.
Baca Juga: Nasaruddin Umar Bawa Istiqlal Jadi Masjid yang Melampaui Zaman
Metode belajar yang telah diterapkan Linguo terbukti ampuh untuk pembelajaran bahasa. Dhani menyebut tak kurang dari 15 ribu orang telah belajar bahasa di Linguo.
Cerita Dhani Bisa Jadi PoliglotBagi Dhani, bahasa adalah seni. Saat duduk di bangku kelas menengah pertama dan atas, dia sebenarnya tidak terlalu minat dengan bahasa. Penguasaan bahasa Inggris pun tidak terlalu memadai.
Namun, saat belajar Bahasa Jerman, kemampuan bahasa Inggris Dhani juga ikut bagus. Dari situ dia berkesimpulan, orang belajar banyak bahasa dalam satu waktu sangat memungkinkan.
“Jadi ada fakta bahwa orang yang belajar beberapa bahasa sekaligus di saat yang sama sangat memungkin dengan metode dan cara yang tepat, dengan bahan ajar yang tepat, guru yang tepat,” ujar Dhani.
Baca Juga: Aplikasi Ini Bantu Pemuda Tingkatkan Skill dan Kompetensi di Tengah Pandemi
Minat Dhani pada bahasa juga tidak lepas dari orang tua. Dia menyebut sang ayah merupakan pensiunan guru bahasa Indonesia. Saat kuliah, sang ayah juga mengambil jurusan bahasa. Atas dasar itu, dia menyebut buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Salah satu faktor juga ke sana, bakat seni. Karena kan jurusan interior, apalagi masuk ke ranah seni juga, bahasa juga masuk ke humoria juga, dan aku bisa mengaplikasikan seni, atau desain untuk hal belajar bahasa. Ini kepake ternyata, metodologinya,” ungkap Dhani.
(jqf)