LANGIT7.ID, Jakarta -
Masjid Istiqlal kini menjadi trendsetter internasional. Berbagai penghargaan telah diraih masjid kebanggaan masyarakat Indonesia ini. Di antaranya jadi Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Dunia dan Masjid Terbersih menurut World Bank. Kemajuan tersebut tak terlepas dari peran Prof Dr. KH Nasaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal.
Sebelumnya,
Masjid Istiqlal tidak terawat dengan baik. Banyak pedagang kaki lima (PKL) keluar masuk masjid tanpa aturan. Parkir kendaraan di dalam masjid juga semrawut. Tak hanya itu, ruang-ruang di dalam Masjid Istiqlal banyak yang tak berfungsi dan jadi gudang.
Sejak ditunjuk sebagai Imam Besar
Masjid Istiqlal pada 2016, Prof Nasar membuat
grand design renovasi Istiqlal dari segi fisik maupun non fisik. Baginya membangun Masjid Istiqlal bukan hanya dari segi fisik saja, tapi menjadikannya sebagai pusat pemberdayaan umat. Dia mencontohkan Masjid Nabawi pada era Rasulullah di Madinah.
“Masjid nabi itu luar biasa. Itu yang kami contoh. Masjid nabi itu bukan diberdayakan umat, tapi memberdayakan umat. Ciri-ciri masyarakat modern bukan diberdayakan umat, tapi masjid memberdayakan,” kata Prof Nasar kepada Langit7.id, Senin (8/8/2022).
Baca Juga: Masjid Istiqlal Fasilitasi Pendidikan Mulai dari TK hingga Jenjang S3
Contoh paling sederhana adalah marbot Masjid Istiqlal. Ada sekitar 260 marbot yang tiap hari mengurus masjid. Mereka semua mendapat gaji tiap bulan. Tentu dari setiap orang memiliki keluarga yang ditanggung.
“Kita punya 260 tenaga kerja, 260 itu punya anak punya keluarga. Kita kasih gaji. Belum lagi jamaah bisa jualan di sini,” katanya.
Masjid Istiqlal juga memberdayakan ekonomi umat. Ada misi jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek sudah bisa dilihat di sekeliling Istiqlal. Tepat di sebelah kanan Pintu Al-Fattah, Masjid Istiqlal memiliki pusat kuliner yang memberdayakan UMKM dan PKL secara lebih teratur.
Jangka panjang salah satunya program kursus bahasa. Ada tiga bahasa yang dijadikan program utama yakni bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Mandarin. Semua itu gratis tanpa dipungut biaya.
“Jadi siapapun yang mau belajar bahasa asing, bisa gratis di sini. Siapa yang mengajarkan? Itulah binaan-binaan kita di sini. Mereka belajar mengajar,” kata Prof Nasar.
Baca Juga: Raih Ragam Penghargaan, Masjid Istiqlal Jadi Trendsetter Internasional
Bahasa Arab sudah pasti menjadi pilihan karena merupakan pintu memahami ajaran Islam. Bahasa Inggris saat ini menjadi bahasa Internasional. Sementara, bahasa Mandarin bakal menjadi bahasa yang dibutuhkan di masa depan.
Dari sisi teknologi,
Masjid Istiqlal juga tengah mengembangkan
meta-mosque atau masjid metaverse. Melalui inovasi ini, masyarakat dapat membeli apapun melalui metaverse dan keuntungannya dapat memberdayakan umat.
“(Masjid Istiqlal) masjid pertama yang menggunakan teknologi metaverse,” ujar Prof Nasar.
Teknologi ini juga mempermudah umat mempelajari Islam. Misal dalam melakukan praktik manasik haji atau pun seminar. Masyarakat bisa menikmati konsep maya yang ditawarkan teknologi metaverse.
“Meta-mosque itu nanti akan menggunakan teknologi metaverse. Metaverse itu nanti akan sangat mempermudah orang belajar Islam, misal manasik haji, seminar. Perpustakaan di Mesir bisa kita buka bukunya seperti buka buku di sini, hanya melalui teknologi metaverse,” kata Prof Umar.
Masjid Ramah Lingkungan Pertama di DuniaIstiqlal menjadi masjid pertama di dunia sebagai rumah ibadah dengan bangunan ramah lingkungan atau green building. Itu dibuktikan dengan adanya penghargaan
Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE).
Baca Juga: Imam Besar Istiqal: Moderasi Beragama Bukan Liberalisasi dan Westernisasi
“Masjid atau rumah ibadah yang paling pertama mengembangkan konsep penghematan energi. Kami tidak tahu, kalau kami diam-diam diperhatikan oleh orang luar. Tiba-tiba kami mendapatkan penghargaan,” kata Prof Nasar.
Penghargaan EDGE itu diberikan
International Finance Corporation melalui Country Manager IFC pada April 2022 lalu. EDGE merupakan standar bangunan hijau dan sistem sertifikasi untuk membantu pelaku bangunan gedung mewujudkan konsep ramah lingkungan.
Prof Nasar membeberkan beberapa indikator penghargaan tersebut. Pertama, Masjid Istiqlal bisa menghemat 38% daya listrik karena memanfaatkan tenaga panel surya. Itu berasal dari wakaf energi yang dikelola Badan Pengelola Istiqlal.
“Jadi, atap-atap masjid Istiqlal itu sudah hampir separuh dipenuhi panel tenaga surya, sehingga kita bisa menghemat tenaga listrik sekitar 38 persen,” ucapnya.
Kedua, Istiqlal menerapkan
zero water waste. Prof Nasar mengungkapkan, tidak ada setetes air wudhu pun di Istiqlal yang terbuang percuma. Semua air masuk ke kantong-kantong besar di sekeliling masjid.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Akan Gelar Upacara Kemerdekaan Lintas AgamaSelain itu, Masjid Istiqlal juga mendapatkan penghargaan sebagai masjid bebas dari virus berbahaya seperti Covid-19. Sejak era delta sampai omicron, Istiqlal selalu mendapatkan penghargaan masjid bebas virus.
“Masjid kita terbuka dari selatan, di situ ada hijau-hijau, kemudian ditiup ke utara. Sirkulasi udaranya seperti itu. Kemudian platform sangat tinggi, sehingga ditemukan virus,” jelas Prof Nasar.
(jqf)