LANGIT7.ID - , Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG) mengumumkan status siaga potensi dampak
hujan lebat di wilayah Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bengkulu, dan Sumatera Selatan, pada Kamis (20/10/2022).
Dampak dari hujan lebat di wilayah-wilayah tersebut berupa bencana
hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, banjir bandang,
angin kencang, puting beliung dan
gelombang tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada dan memantau secara rutin memantau informasi cuaca.
Baca juga: BMKG: Ada Ancaman Bencana Hidrometeorologi Pasca Gempa Pasaman"Kami mengimbau sobat BMKG yang berada di sekitar wilayah tersebut untuk berhati-hati dan waspada terhadap risiko bencana tersebut," ujar Efa Septiani, Prakirawan Cuaca BMKG, dalam kanal YouTube Info BMKG.
Selain itu, BMKG turut mengumumkan potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) di wilayah udara Indonesia hingga 21 Oktober 2022.
Awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen (OCNL / Occasional) diprediksi terjadi di sebagian kecil Aceh,
Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan,
Bangka Belitung, Lampung, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia Barat Sumatera, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Cakupan cumulonimbus berlangsung pula di Samudera Hindia Selatan Jawa sampai Bali, Laut Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat (NTB), Laut Flores, Laut Sawu, Maluku, Laut Banda, Laut Seram, Laut Arafura, Papua Barat, Samudera Pasifik Utara Papua dan Teluk Cendrawasih.
Baca juga: Potensi Cuaca Ekstrem Terjadi Sepekan ke Depan, BMKG Imbau Warga Waspada"Segera menghindar dari lokasi rawan banjir atau
banjir bandang, di bantaran, lembah, dan tubuh sungai. Hindari lokasi rawan longsor, seperti pada lereng, tebing, atau kaki lereng, dan lokasi rawan bencana hidrometeorologi lainnya," tulis BMKG, dalam situs resminya.
(est)