LANGIT7.ID, Jakarta - Bila tak ada peperangan di Afghanistan, Mazar-e Sharif akan menjadi kota yang indah dengan ikon wisata religi Masjid Hazrat-e Ali. Masjid Biru yang berdiri di taman penuh bunga pada pusat kota.
Jauh puluhan tahun sebelum konflik senjata mendera negara itu, Afghanistan pernah menarik ribuan wisatawan lewat keindahan masjid tersebut. Pengunjung akan dimanjakan dengan ribuan bunga pada blok-blok taman sekitar yang dapat meredam kebisingan kota.
Pada setiap sisi jalannya terdapat toko-toko kecil yang menjual oleh-oleh, jajanan, dan pernak-pernik yang biasanya penuh kerumunan wisatawan. Ada tawa anak-anak dan sekumpulan merpati yang terbang bebas ke sana kemari.
BACA JUGA: Pemerintah Naikkan Batas Kapasitas Masjid Jadi 50 PersenPuluhan anak berjalan-jalan dengan orang tua mereka menikmati siang hingga senja. Sementara ratusan, tidak, mungkin ribuan merpati putih salju bertebaran di jalan dan teras masjid, mematuk tanah, dan melonjak di atas kepala.
Merpati putih barangkali menganggap kompleks Masjid Biru sebagai rumah, di mana mereka biasa hinggap di pepohonan atau terasnya. Petugas Masjid Biru dari masa ke masa membesarkan dan merawat kehadiran para merpati sejak masjid dibangun pada abad ke-12.
“Legenda mengatakan bahwa merpati berwarna putih murni karena kesucian masjid itu sendiri. Jika ada burung merpati dengan setitik warna terbang dan hinggap di area masjid, warnanya akan berubah menjadi putih seperti salju,” dikutip refll.org, Selasa (17/8/2021).
Masjid Biru didirikan pada masa Sultan Ahmad Sanjar, penguasa Dinasti Seljuk. Masjid ini pernah rusak parah akibat agresi militer Genghis Khan ke wilayah ini pada sekira 1220 M. Pada abad ke-15 M, Sultan Husayin Mirza Bayqarah kembali merenovasinya dengan arsitektur yang menawan dan khas warna biru.
Masyarakat mempercayai khalifah Ali bin Abi Thalib dimakamkan di sini. Mereka meyakini jenazah Sayyidina Ali dipindahkan ke Afghanistan dari tempat pemakaman aslinya di Al-Najaf, Irak, beberapa waktu awal dalam sejarah Islam.
(bal)