LANGIT7.ID, Surabaya - Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar pertemuan tahunan di Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (29/10/2022). Pertemuan yang dihadiri seluruh
Rektor di Indonesia itu mengangkat tiga isu utama untuk menuju Indonesia emas 2045.
Tiga isu itu yakni mewujudkan kedaulatan pangan dan energi, obat-obatan, dan alat kesehatan. Isu itu menjadi prioritas pembahasan karena dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibanding masa sebelumnya.
Persoalan muncul terkait dengan ketersediaan pangan, energi, perubahan iklim, pandemi, dan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Perubahan iklim berupa pemanasan global yang menyebabkan kekeringan dan banjir telah menurunkan produktivitas sektor pertanian sekitar 5%-20%.
Baca Juga: Rektor UGM dan Unair Dikukuhkan Pimpin Forum Rektor Indonesia
“Perubahan iklim itu dipicu oleh penggunaan energi fosil yang berlebihan, sehingga terjadi penumpukan gas rumah kaca di atmosfer kita. Usaha yang luar biasa harus dilakukan untuk secepatnya meningkatkan penggunaan sumber energi bersih atau energi terbarukan sebagai substitusi penggunaan energi fosil,” kata Ketua FRI, Prof. Dr. Panut Mulyono dalam sambutannya.
Upaya tersebut dilakukan guna mendukung transisi dari energi fosil ke energi ke terbarukan untuk mencapai target net zero emission (nol bersih emisi) pada 2060 atau bahkan lebih cepat lagi. Dia berharap pada 2040 Indonesia sudah bisa menjadi
Net Zero Emission Carbon.
Selain itu, Panut mengatakan, saat ini industri obat di Indonesia masih sangat tergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu tentu tidak menguntungkan bagi Indonesia. Negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar kedua seharusnya mampu menghasilkan banyak bahan baku obat di dalam negeri. Tetapi, kenyataannya Indonesia belum mampu.
Baca Juga: Y20 Digelar di Solo, Cari Solusi 4 Isu Pemuda Lintas Negara
Di bidang alat kesehatan, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Dengan nilai dapat mencapai $2,2 Amerika Serikat per tahun. Namun kenyataannya, produk alat kesehatan kita, lebih 40% masih merupakan produk impor.
“Berdasarkan keadaan itu, maka Perguruan Tinggi di Indonesia dituntut untuk dapat menjawab dan menjadi solusi bagi berbagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia,” ujar Mantan Rektor UGM tersebut.
(jqf)