LANGIT7.ID, Jakarta - Tak ada satu pun ciptaan Allah SWT yang sia-sia, termasuk lisan pada manusia. Lisan merupakan perangkat dalam tubuh yang bisa menimbulkan manfaat sekaligus mudarat besar bila tak benar penggunaannya.
Pepatah Arab menyebutkan,
salamatul insan fi hifdhil lisan (keselamatan seseorang tergantung pada lisannya). Melalui kata-kata, seseorang bisa menolong orang lain, namun lewat kata-kata pula manusia dapat menimbulkan kerugian tak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.
Lengkapnya, berikut ringkasan khutbah Jumat yang
Langit7.id rangkum dari laman resmi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Jumat (4/11/2022).
Baca Juga: Masjid Istiqlal Hemat Bayar Listrik dari Panel Tenaga Surya1. Berkata Baik atau Diam SajaSaking krusialnya, Islam bahkan hanya memberi dua pilihan terkait fungsi lisan, yakni untuk berkata baik atau diam saja. Seperti bunyi hadits riwayat Imam al-Bukhari:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَـيْرًا أَوْ لِيَـصـمُــتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”
Rasulullah mendahuluinya dengan mengungkapkan keimanan sebelum memperingatkan tentang bagaimana sebaiknya lisan digunakan. Keimanan adalah hal mendasar bagi umat Islam.
Ini menunjukkan urusan lisan tidak main-main. Hadits di atas bisa dipahami sebaliknya (mafhum mukhalafah), orang-orang tak bisa berkata baik maka patut dipertanyakan kualitas keimanannya kepada Allah SWT dan hari akhir.
2. Hubungan Lisan dengan AkhiratAlasan lisan dihubungkan dengan keimanan di akhirat karena segala ucapan yang keluarkan manusia sejatinya selalu dalam pengawasan Allah SWT.
Ucapan mengandung pertanggung jawaban, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Orang yang berbicara tak baik, tanpa mempertimbangkan dampak buruknya, mengindikasikan pengabaian keyakinan terhadap Allah SWT.
Allah SWT juga mengutus malaikat khusus untuk mengawasi setiap ucapan manusia.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tak ada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Al-Qur'an surat Qaf ayat 18).
3. Gibah dan FitnahBanyak hal kotor yang dapat muncul dari lisan, seperti gibah atau membicarakan keburukan orang lain.Kegiatan ini mungkin asyik bagi sebagian orang sebagai bahan obrolan. Manusia mempertaruhkan reputasi, memupuk kebencian serta merusak kepercayaan dan kehormatan orang lain atau disebut fitnah.
Fitnah artinya sengaja menebar berita tak benar dengan maksud merugikan pihak lain. Fitnah merupakan sifat yang dibenci Islam. Fitnah masuk dalam kategori kebohongan tapi dalam level lebih menyakitkan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
4. Bicara Baik Tanda Akal Sehat Manusia harusnya berpikir tentang nilai kebaikan dalam kata-kata yang akan diucapkan. Manusia harus memahami lebih dahulu memahami dampak yang akan timbul setelah ucapan dilontarkan.
Ini perlu diketahui agar kesalahan tak berlipat ganda karena lisan tak terjaga. Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَـافُ عَلَيْــكُمْ بَعْدِيْ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِـيمُ اللِّسَانِ
“Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafiq yang pintar berbicara” (HR At-Tabrani).
5. Jaga Lisan agar Tidak Menimbulkan MudharatOleh karena itu, manusia harusnya hati-hati dalam berucap. Berpikir dan ber-tabayyun (klarifikasi) menjadi sikap wajib dilakukan untuk menjamin apa yang dilakukan bernilai maslahat, atau sekurang-kurangnya tidak menimbulkan mudarat.
Ingat selalu, Allah SWT mengutus malaikat khusus untuk mengawasi ucapan manusia.
Baca Juga: Semarakkan Muktamar Muhammadiyah, UBN Roadshow Dakwah di Jateng(zhd)