LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Istiqlal selain berdiri dengan megah, juga merupakan trend setter internasional. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini menggunakan energi listrik panel tenaga surya untuk kebutuhan operasional masjid.
Panel surya tersebut digunakan untuk pencahayaan di area masjid dengan total daya sebesar 150.000 watt serta sebagai upaya mendukung penggunaan energi yang ramah lingkungan, efektif, dan efisien.
Imam Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan, walaupun masih memakai tenaga listrik dari PLN, adanya penerapan energi listrik panel tenaga surya membatu menghemat pengeluaran masjid hingga 50 persen.
"Dulu membayar listrik sebesar Rp250 juta sampai Rp300 juta perbulan, tapi sekarang turun drastis sampai 125 juta perbulan," kata Prof KH Nasaruddin secara virtual dalam konferensi nasional masjid ramah lingkungan 2022 bertajuk 'Dari Masjid Wujudkan Kehidupan Berkelanjutan', dikutip Jumat (4/11/2022).
Dia menjelaskan, penggunaan panel tenaga surya di Masjid Istiqlal tidak seratus persen menggunakan anggaran negara. Tapi juga atas partisipasi dari para jamaah yang disumbangkan melalui ide pihak masjid, yaitu wakaf energi.
Baca Juga: Gerhana Bulan Terjadi 8 November, Simak Tata Cara Salat Khusuf"Anggaran negara ini kan terbatas, jadi kita adakan wakaf energi kepada para jamaah untuk berpartisipasi untuk mewakafkan atau menyumbang," jelasnya.
Selain itu, Masjid Istiqlal juga menerapkan sistem ramah lingkungan lainnya yakni pengelolaan air limbah. Di mana setiap air wudu yang digunakan tidak terbuang ke saluran, melainkan mengalir ke satu wadah tampung besar untuk proses recycle.
"Itu diproses dan menjadi air yang sangat bening. Bahkan menurut penelitian Dinas Kesehatan itu bisa langsung diminum," ujarnya.
Meski demikian, dia menjelaskan, bahwa air daur tersebut tidak dipakai untuk berwudu lagi melainkan untuk penyiraman tanaman, pembersihan toilet, serta pembersihan-pembersihan lainnya yang membutuhkan air.
"Karena kita menganut mazhab Syafi'i, kami masih berkeyakinan bahwa air musta'mal itu kalau sudah dipakai berwudu sebening apapun, sebersih apapun itu tidak boleh dipakai berwudu kembali," ujarnya.
(zhd)