LANGIT7.ID - , Jakarta -
Nabi Syuaib 'alaihi sallam mengajarkan etika bisnis yang baik agar pekerjaan mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT.
Allah Ta'ala mengutus Nabi Syuaib AS untuk menyadarkan
kaum Madyan yang curang dan licik dalam berdagang. Banyak etika bisnis yang bisa diteladani dari Nabi Syuaib.
Maydan dihuni oleh masyarakat yang mayoritas
pedagang besar dan hidup dalam kemakmuran. Kota Maydan sangat berkembang dengan baik dan makmur sehingga memancarkan aura kesuksesan serta kegembiraan duniawi.
Baca juga: Kisah Penjual Roti yang Selalu Beristighfar saat BerdagangKota ini cukup strategis karena menghubungkan beberapa titik tengah jalur perdagangan utama, seperti Yaman, Mekkah, Suriah, Irak, dan Mesir.
Namun, kemajuan ekonomi di Maydan membuat masyarakatnya berpaling dari Allah SWT. Mereka mengembangkan bisnis dengan berbagai praktik jahat, seperti
keserakahan, egoisme, menipu, mencuri, hingga kekerasan hingga menyebarkan kerusakan pada Bumi.
Nabi Syuaib AS mengajarkan umat manusia etika kerja yang baik demi mendapatkan rahmat dan berkah Allah SWT dan terhindar dari murka-Nya. Kisah kemurkaan Allah di zaman Nabi Syuaib AS diceritakan dalam surat Al A'raf ayat 85-93.
Berikut empat pelajaran utama
etika bisnis yang patut diteladani dari Nabi Syuaib As, melansir dari About Islam, Senin (7/10/2022).
1. Menyembah Allah SWT adalah Sumber Segala Kebaikan
Hal pertama dan terpenting yang diminta Nabi Syuaib AS kepada umatnya adalah untuk menyembah, serta menaati Allah SWT. Menyembah Allah SWT merupakan sumber segala kebaikan.
Nabi Syuaib AS mengarahkan umatnya ke jalan menuju arti sebenarnya dari kemakmuran dan kepuasan tidak hanya di dunia ini, tetapi juga di akhirat.
Baca juga: 9 Tips Untung Berdagang, Terapkan Ini sebelum BerjualanPrinsip itu terbukti. Nabi Syuaib tidak pernah meminta balasan atau imbalan saat ia membantu orang. Ia hanya berkata "pahala hanya dari Tuhan dan semesta alam".
Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf ayat 93:
وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّآ اَخَذْنَآ اَهْلَهَا بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ
"Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri."
2. Tiada Tuhan yang Maha Kuasa kecuali Allah SWT
Tentunya, perjalanan Nabi Syuaib di dunia yang kelam itu tidak mudah. Banyak masyarakat yang menolak Nabi Syuaib serta ajaran surgawinya. Tak sedikit yang masih berambisi dengan duniawi mereka.
Masyarakat beranggapan menyembah Allah SWT bukan dari bagian misi kesuksesan dunia. Nabi Syuaib tetap menerapkan, tiada Tuhan yang Maha Kuasa kecuali Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 89:
وَيٰقَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِيْٓ اَنْ يُّصِيْبَكُمْ مِّثْلُ مَآ اَصَابَ قَوْمَ نُوْحٍ اَوْ قَوْمَ هُوْدٍ اَوْ قَوْمَ صٰلِحٍ ۗوَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِّنْكُمْ بِبَعِيْدٍ
"Dan wahai kaumku! Janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu berbuat dosa, sehingga kamu ditimpa siksaan seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Lut tidak jauh dari kamu."
Baca juga: Tips Berdagang, 5 Cara Pengaruhi Konsumen agar Langsung Transaksi
3. Bisnis adalah Keadilan
Terlenanya dengan kondisi ekonomi yang baik membuat masyarakat Maydan hanya bermisi mendapatkan keuntungan. Mereka relatif menipu dalam bisnisnya.
Nabi Syuaib menekankan, bisnis adalah keadilan di mana pedagang mendapatkan keuntungan dan pelanggan memiliki apa yang mereka butuhkan sesuai dengan bayarannya.
Allah SWT berfirman:
َيٰقَوْمِ اَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
"Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan." (Hud ayat 85)4. Hindari Kapitalisme Liberal dalam Bisnis
Masyarakat Maydan menganggap Syuaib dan agamanya mengganggu budaya bisnis mereka. Tak sedikit para pelaku bisnis menganggap agama Islam membatasi dan mengatur kebebasan bisnis.
Baca juga: Rasulullah Jadi Inspirasi dan Rujukan Berdagang dalam Al QuranMereka percaya keimanan dan kebajikan yang diajarkan Nabi Syuaib merupakan awal kehancuran bisnis. Sebab, Syuaib mengajak umatnya untuk jujur dan adil dalam bisnis.
Nabi Syuaib menghindari kapitalisme liberal, yaitu hanya untuk mendapatkan keuntungan besar-besaran. Prinsip utama kapitalisme liberal adalah materialisme, individualisme, dan konsumerisme.
Ini bertentangan dengan kerjasama, kolektivisme, spiritualitas dan moralitas.
Prinsip Nabi Shu'ayb sejatinya diikuti oleh umat hingga kini meski pertentangan di zamannya sangat keras. Pada 1987, Paus Yohanes Paulus II mengecam keras kapitalisme liberal. Dia menyamakannya dengan kejahatan komunisme Marxis.
(est)