LANGIT7.ID, Jakarta - Tanggal 10 November diperingati sebagai
Hari Pahlawan. Sejarah mencatat ada pertempuran hebat pada momen tersebut, berpusat di Surabaya, Jawa Timur.
Pertempuran antara pasukan perjuangan Indonesia melawan tentara Inggris ini merupakan tragedi terbesar setelah
Proklamasi kemerdekaan.
Bahkan menjadi pertempuran terberat dalam sejarah
Revolusi Nasional Indonesia, dan menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Dalam buku "
Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" karya Abdul Waid disebutkan, pertempuran di Surabaya terjadi dipicu oleh kemarahan rakyat Indonesia di
Surabaya karena akan dikembalikan sebagai negara jajahan Belanda.
Baca Juga: Menguatkan Umat Lewat Film-Film Kepahlawanan MuslimPeristiwa itu bermula saat kedatangan tentara Inggris usai kekalahan Jepang. Mereka mendarat di Jakarta dan berada di Surabaya pada pertengahan September.
Rombongan sekutu yang tiba di Surabaya pada 18 September 1945 kemudian menempati Hotel Yamato, Jalan Tunjungan 65, Surabaya. Rombongan ini terdiri dari opsir Sekutu dan Belanda dari Allief Forces Netherlands East Indies (AFNEI) bersama-sama Palang Merah Jakarta.
Tujuan utamanya adalah melucuti dan memulangkan tentara Jepang kembali ke negaranya, membebaskan tawanan perang, sekaligus mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan.
Hal itu kemudian diikuti dengan pengibaran bendera Belanda oleh anak buah WCV Ploegman di Hotel Yamato, pada 19 September 1945. Bendera Merah Putih Biru itu dikibarkan tanpa persetujuan pemerintah daerah Surabaya.
Bendera itu dinaikkan di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato. Lantas keesokan harinya para pemuda Surabaya yang melihat hal itu marah, karena Belanda seperti menghina kedaulatan Indonesia.
Kericuhan itu berakhir pada perundingan antara Soedirman sebagai perwakilan Indonesia dengan Ploegman, di Hotel Yamato. Soedirman meminta untuk segera diturunkannya bendera Belanda.
Permintaan Soedirman itu ditolak. Hingga perundingan semakin memanas dan terjadi perkelahian akibat Ploegman sempat mengeluarkan pistol.
Pada akhirnya, perundingan itu harus meregang nyawa Ploegman. Usai Insiden Hotel Yamato inilah yang akhirnya memecah pertempuran di Surabaya.
Tepatnya pada 27 Oktober 1945, pertempuran pertama antara Indonesia melawan AFNEI meletus. Dua hari kemudian, Jenderal DC Hawthorn sebagai Panglima Sekutu untuk wilayah Jawa, Bali dan Lombok memohon gencatan senjata, tapi juga tak berhasil dilakukan.
Pertempuran itu mengakibatkan terbunuhnya pimpinan tentara sekutu, AWS Mallaby. Inggris yang marah mengeluarkan ultimatum, meminta semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata untuk melapor, serta meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan.
Tak hanya itu, mereka juga meminta orang Indonesia menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum pada pukul 06.00, 10 November 1945.
Ultimatum tersebut membuat rakyat Surabaya semakin marah hingga pertempuran 10 November 1945 tak bisa dihindari. Perang antara rakyat Indonesia di Surabaya melawan sekutu itu berlangsung sekitar tiga minggu.
(bal)