LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 6 keistimewaan saat
hujan turun. Umat Islam tak boleh protes nikmat dari Allah SWT tersebut karena ada hikmah yang bisa dipetik di setiap tetesnya.
Hujan adalah salah satu bentuk rahmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Selain harus disyukuri, ternyata ada manfaat hikmah yang menjadikan
air hujan sebagai sumber kehidupan.
Melansir
The Muslim Vibe, berikut 6 hikmah yang bisa dipetik dari hujan, berdasarkan Al-Quran dan Hadits:
Baca Juga: Lafazkan Doa Ini saat Hujan Lebat Disertai Angin Kencang dan Petir1. Kesempurnaan Hujan terjadi dari penguapan air di bumi, kemudian membentuk awan di atmosfer, dan menjatuhkan titik-titik air. Siklus air hujan yang cukup kompleks menunjukkan bukti kesempurnaan kreativitas Allah akan ciptaannya.
"Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira." (QS. Ar-Rum: 48).
Air hujan itu lalu ada yang dikonsumsi, ada pula yang terkumpul di danau, sungai, dan laut. Kemudian siklus hujan terus berulang demikian.
Proses terjadinya hujan ini dirancang oleh sang Pencipta semesta alam. Inilah salah satu alasan untuk mengimani dan mengakui kekuasaan serta kebesaran-Nya.
2. Manfaat Hujan memiliki manfaat besar bagi makhluk hidup, terutama manusia. Air hujan memberikan ketersediaan pasokan air bersih yang berlimpang, yang kemudian digunakan untuk wudu, mandi, mencuci, dan keperluan lainnya.
Selain manusia, air hujan juga bermanfaat bagi kehidupan makhluk lainnya, seperti tanaman dan hewan. Seperti yang disebutkan dalam Al-Quran dalam surat An-Nahl ayat ke-10.
"Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu." (QS. An-Nahl: 10).
3. HidayahNabi Muhammad SAW menganalogikan hujan yang membasai dua jenis tanah. Pertama, tanah subur yang menyerap air dan menghasilkan banyak tumbuhan, serta dapat dimanfaatkan manusia dan hewan.
Poin ini layaknya hati seorang yang menerima petunjuk Allah dan mendorongnya untuk berbuat baik, serta menyebarkan petunjuk itu kepada orang lain.
Kedua, adalah tanah tandus yang tidak menyimpan air hujan atau tidak menghasilkan tumbuh-tumbuhan. Ini mirip dengan hati yang kehilangan petunjuk, dan tidak mendorong orang untuk berbuat baik atau bermanfaat bagi orang lain.
"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus kepadaku seperti seperti perumpamaan air hujan (ghaits) yang mengenai bumi. Tanah itu menerima air lalu dengannya tumbuh tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya hujan juga mengenai tanah cadas yang mampu menahan air, lalu memberikan manfaat kepada manusia dengannya. Mereka bisa minum darinya, mengambil air maupun bercocok tanam dengannya.
Adakalanya hujan juga mengenai bidang tanah yang lain seperti tanah gersang. Tanah itu tak bisa menanhan air dan tidak pula tumbuh tanaman darinya. Itulah perumpamaan orang yang faqih perihal agama Allah. Ia bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang Allah utus diriku dengannya. Dia memiliki ilmu dan mengajarkan ilmunya. Juga perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya (untuk ilmu), tidak menerima petunjuk Allah yang aku utus dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Berkah dan SiksaanHujan merupakan berkah dari Allah, sebagaimana firman-Nya, "Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen." (QS. Qaf: 9).
Namun di sisi lain, hujan juga bisa datang dalam bentuk siksaan. Seperti hujan yang memusnahkan seluruh peradaban umat Nabi Luth, "Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka sangat buruklah hujan (yang ditimpakan) pada orang-orang yang diberi peringatan itu (tetapi tidak mengindahkan)." (QS. An-Naml: 58).
5. Gaib“Tidak ada yang tahu kapan akan turun hujan kecuali Allah…” (HR Bukhari).
Sabda Rasulullah itu terbukti hingga zaman sekarang. Dengan teknologi yang serba canggih sekalipun, tetap saja hujan masih masuk dalam kategori ramalan cuaca, dan bukan kepastian.
Bahkan seorang lmuwan di University of Reading, Jon Shonk mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa memprediksi cuaca dengan akurasi 100 persen. Artinya ramalan cuaca juga memiliki tingkat kesalahan dalam prediksi hujan.
6. AkhiratHujan adalah pesan dan pengingat akan kehidupan akhirat. Hujan memberikan kehidupan kembali di bumi, terutama di tanah tandus atau gersang.
Serupa dengan hujan yang mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari tanah, manusia juga akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari Pembalasan.
"Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran (yang diperlukan) lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (QS. Az-Zukhruf: 11).
(bal)