LANGIT7.ID - , Jakarta - Guru besar
Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Indah Prihartini, menilai sumber pangan tidak hanya dari pola konvensional yang membutuhkan lahan luas. Namun juga adaptif dengan kehidupan masyarakat perkotaan atau yang disebut
urban farming.
Pertanian urban didefinisikan sebagai konsep memindahkan pertanian konvensional ke perkotaan. Faktor yang membedakan terletak pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian urban ini berkembang sebagai respon masalah yang berkaitan dengan kehidupan perkotaan, seperti berkurangnya lahan pertanian karena pembangunan.
Baca juga: Inovasi Seniman Saudi, Sulap Usaha Pertanian Jadi Bisnis Kriya“Pertanian perkotaan
lahannya sempit, sehingga harus memanfaatkan bagaimana degan lahan sempit, tetap bisa memproduksi tanaman pangan,” kata Prof Indah dalam webinar urban farming yang digelar Akademi Hikmah Channel, dikutip Sabtu (19/11/2022).
Indah menjelaskan ciri khas pertanian perkotaan yang membedakan dengan
pertanian pedesaan (pertanian lahan luas). Kriteria tanaman pertanian perkotaan biasanya mudah ditanam, berumur pendek, dan mudah dibudidaya.
Kemudian, pertanian perkotaan umumnya memanfaatkan sumber daya yang ada dan terbatas. Indah mencontohkan halaman pekarangan ataupun pertanian dengan teknik hidroponik.
“Biasanya yang dipilih tanaman-tanaman hortikultura baik sayur-sayuran berdaun atau sayuran berbuah. Itu yang biasa disebut
urban farming (tanaman perkotaan),” ujar Indah.
Menanam tanaman hortikultura bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti memanfaatkan lahan terbatas ataupun hidroponik. Tanaman yang cocok untuk hidroponik memiliki ciri khas mudah dipelihara seperti slada, bayam, dan kangkung.
Baca juga: Ahli Pertanian G20 Rekomendasikan Intervensi Teknologi“Itu bisa ditanam dengan teknik hidroponik. Artinya, dia hanya menggunakan media air untuk budidaya,” kata Indah.
Bisa juga menggunakan media tanah dengan memanfaatkan polybag ukuran 1,5 kilo ataupun 1 kilo. Bahkan, bisa menggunakan polybag ukuran 5 kilo untuk tanaman berukuran besar. Bisa juga menggunakan media spons yang dialiri nutrisi dengan teknik hidroponik. Spons menjadi media menempelnya akar tanaman.
Di sisi lain, kata Indah, pertanian perkotaan bisa bernilai ekonomis. Jadi, tidak hanya ketahanan pangan saja, tapi juga bisa bernilai ekonomis. Ini bisa dilakukan dengan teknik kerjasama atau kolaborasi dalam satu Kawasan (klaster).
“Misal dalam satu kompleks perumahan, kita bisa membuat pertanian perkotaan yang bernilai ekonomis. Produksi pertanian itu dalam bentuk massal dengan jenis yang sama, sehingga bisa dijual atau dikemas,” kata Indah.
Baca juga: PUPR Padukan Destinasi Wisata dan Pertanian di Banyuwangi(est)