LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Gedhe Kauman didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono pertama bersama penghulu keraton pertama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat. Masjid ini merupakan tempat ibadah Kasultanan di Keraton Yogyakarta yang dibangun pada tanggal 29 Mei 1773 dan arsiteknya ialah Kyai Wiryokusumo.
Dilansir dari akun YouTube Kangen Jogja, Senin (21/11/2022). Masjid Gedhe Kauman mewarisi gaya arsitektur Masjid Demak, yaitu keberadaan empat pilar utama atau dikenal dengan saka guru, dengan atap berbentuk tajug lampang teplok. Tajug lambang teplok sendiri merupakan bentuk atap yang tersusun tiga bagian.
Secara administratif, Masjid Gedhe Kauman terletak di sisi barat alun-alun utara barat daya, Pasar Beringharjo, dan berdekatan dengan Keraton Yogyakarta. Setiap harinya masjid ini dibuka bagi umum, akan tetapi hanya saat waktu salat fardu Yogyakarta, yaitu Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya.
Baca Juga: Ciri Istri Salihah, Cukup Bermodal Taat ke Allah SWT dan SuamiBagian-bagian masjid ini terdiri dari mihrab arau tempat pengimaman, liwan atau ruangan luas untuk jemaah, serta serambi yang merupakan bagian luar bangunan. Di dalam Masjid Gedhe Kauman ini terdapat ruangan khusus bagi Sultan ketika hadir di masjid atau dikenal dengan nama maksura.
Selanjutnya, situs peninggalan sejarah yang masuk dalam kategori masjid keprabon ini menegaskan keberadaan Kesultanan Yogyakarta sebagai salah satu kerajaan Islam di Indonesia. Masjid Gedhe Kauman ini juga mempunyai dua bagian inti, yaitu ruang salat utama dan serambi.
Masjid Gedhe sempat mengalami beberapa kali pemugaran, yakni selang dua tahun setelah pendirian masjid dilakukan perluasan berupa pembangunan serambi berbentuk limasan dua tingkat. Pembangunan serambi ini juga bersamaan dengan pembangunan dua bangunan tambahan, yang disebut sebagai pagongan.
Dua bangunan ini dipergunakan sebagai tempat dua rangkaian gamelan pusoko, yaitu gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowillogo. Gamelan ini dimainkan selama berlangsungnya upacara Sekaten. Pada tahun 1740 dibangun regol atau pintu gerbang masjid yang berbentuk Semar Tinandu dberi nama gapuro.
Gapura berasal dari gofura yang berarti ampunan dari dosa, sedangkan bentuk semar tinandi melambangkan sosok teladan yang mengasuh para ksatrian dan raja sehingga dinilai layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya.
Baca Juga: Dikabarkan Mualaf, Daniel Mananta Ungkap Alasan Sowan ke UAS(zhd)