LANGIT7.ID - , Jakarta -
Gempa bumi magnitudo 5,6 yang mengguncang
Cianjur menyebabkan banyak kerusakan pada bangunan. Data terakhir dari BNPB tercatat sebanyak 103 korban meninggal, 25 orang hilang, 377 luka-luka, dan warga mengungsi lebih dari 7.000 jiwa.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (
BMKG) Daryono menjelaskan alasan gempa Cianjur sangat merusak padahal skalanya tidak terlalu besar.
Baca juga: Dampak Gempa Cianjur, Korban Jiwa Bertambah Warga Mengungsi Capai 7.000 Orang"Kedalaman gempa (Cianjur) itu dangkal atau Shallow Crustal Earthquake. Jadi energinya dari pusat yang dipancarkan diradiasikan ke permukaan tanah itu masih kuat," kata Daryono kepada Langit7.id, melalui pesan singkat, Selasa (22/11/2022).
Morfologi wilayah tersebut pada umumnya berupa dataran hingga dataran bergelombang. Perbukitan bergelombang hingga terjal terletak pada bagian tenggara gunung api Gede.
Wilayah ini secara umum tersusun oleh endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda (breksi gunung api, lava, tuff) dan aluvial sungai. Sebagian batuan rombakan gunung api muda tersebut telah mengalami pelapukan.
Endapan Kuarter tersebut pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.
Selain itu, Daryono menjelaskan struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa.
Baca juga: BMKG: Waspada Bencana Susulan Longsor dan Banjir Bandang Usai Gempa Cianjur"Sedangkan lokasi permukiman berada pada tanah lunak (local site effect/efek tapak) dan perbukitan (efek topografi)," tutur Daryono.
Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, bencana di Cianjur ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif. Keberadaan sesar aktif tersebut hingga kini belum diketahui dengan baik karakteristiknya. Adapun lokasinya berada di bagian timur laut zona sesar Cimandiri.
(est)