LANGIT7.ID, Urumqi - 44 orang yang mayoritas merupakan etnis
Uighur dilaporkan meninggal dunia akibat kebakaran di sebuah gedung apartemen di Kota Urumqi Provinsi Xinjiang, China barat laut.
Kebakaran tersebut terjadi di tengah
lockdown akibat Covid-19 yang menyebar di wilayah tersebut. Kebijakan itu membuat banyak penduduk tak bisa keluar apartemen lebih dari tiga bulan terakhir.
“Kematian 44 orang
Uighur dan protes di Urumqi. Otoritas kebakaran tidak mengambil tindakan dalam waktu 3 jam. Penghuni tidak diperbolehkan keluar gedung karena
lockdown Covid-19. Protes berskala besar meletus di seluruh Urumqi yang menyerukan pertanggungjawaban dan meminta pemerintah untuk mengakhiri
lockdown,” tulis portal berita
Uyghur Times English, Sabtu (26/11/2022).
Baca Juga: PBB Sebut China Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Xinjiang
The Washington Post memberitakan, otoritas setempat menyebut korban jiwa hanya 10 orang. Kebakaran tersebut terjadi pada Kamis malam (24/11/2022) waktu setempat. Api menyebar dari lantai 15 ke lantai 17, asap mengepul sampai ke lantai 21. Petugas kebakaran baru bisa memadamkan api dalam rentang waktu tiga jam. Mayoritas korban meninggal dunia karena menghirup asap beracun.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kebakaran tersebut terjadi dipicu soket ekstensi di kamar tidur salah satu apartemen di lantai 15.
Seorang pengungsi Uighur di Swiss, Abdulhafiz Muhammad Emin, mengaku mendapatkan telepon dari tetangganya yang mengabarkan bibi beserta empat anaknya meninggal dunia dalam peristiwa itu.
“Dia adalah wanita yang luar biasa, selalu memikirkan anak-anaknya dan bagaimana memperlakukan dan mendidik mereka dengan baik. "Hatiku benar-benar hancur, aku tidak tahan,” kata Abdulhafız.
Baca Juga: Sikap RI Tolak Bahas Uighur di PBB Bantu China Sembunyikan Pelanggaran HAM
Pemerintah setempat memberlakukan lockdown selama lebih dari tiga bulan untuk memerangi penyebaran Covid-19. China ini telah bergulat dengan gelombang kasus covid-19 dalam beberapa pekan terakhir. Itu menyebabkan
lockdown bergilir dan pembatasan perjalanan.
Banyak warga Xinjiang frustasi karena
lockdown ketat di China. Pada September lalu, beberapa warga dilaporkan kelaparan karena pengiriman makanan yang tidak menentu.
“Xinjiang adalah penjara terbuka. Pemerintah China tidak peduli dengan kehidupan mereka,” kata Abdulhafiz.
Baca Juga: Masyarakat Sipil Punya Peran Suarakan Dukungan untuk Uighur
Walikota Urumqi, Memtimin Qadir, sudah meminta maaf atas kejadian tersebut. Dia mengaku sudah membentuk tim untuk menyelidiki kasus tersebut. Dia mengatakan, saat terjadi kebakaran, pintu darurat tidak dikunci, sehingga penghuni apartemen diizinkan untuk turun.
“Kemampuan beberapa warga untuk menyelamatkan diri terlalu lemah, dan mereka gagal melarikan diri tepat waktu,” kata Kepala Departemen Penyelamatan Kebakaran Kota Urumqi, Li Wenshen, dalam konferensi pers, Sabtu (26/11/2022).
(jqf)