LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Joko Widodo memilih porang sebagai komoditas andalan untuk meningkatkan nilai ekspor tanah air. Ekspor porang pada tahun lalu mencapai angka cukup fantastis, yakni Rp923,6 miliar, Jokowi meminta Kementerian Pertanian (Kementan) untuk serius menggarap porang tidak hanya dalam bentuk mentah, tapi dalam bentuk setengah jadi sehingga bisa mendapatkan nilai tambah di pasaran.
Dalam kunjungan kerjanya ke Madiun, Jawa Timur, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengaku mendapatkan arahan dari Jokowi untuk bisa menggairahkan industri pengolahan porang tanah air. Menanggapi hal itu, pihaknya mengaku akan berupa dalam meningkatkan budidaya porang yang lebih maju hingga porses pasca panen.
“Porang menjadi komoditi negara tropis seperti Indonesia. Komoditas porang ini juga nantinya diharapkan mampu menjadi alternatif beras yang saat ini menjadi pilihan utama masyarakat dalam urusan makanan pokok,” ujarnya Jumat pekan kedua Agustus.
Baca juga: Diminta Presiden Serius Digarap, Porang Miliki Segudang ManfaatSebagai bentuk dukungan, Kementan menjadikan produk sebagai mahkota yang masuk dalam program gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks), di samping sarang burung walet dan lainnya. Ekspor porang saat ini menargetkan beberapa negara di Asia, seperti Cina, Thailand, Taiwan,Vietnam, Myanmar Jepang, dan beberapa negara lainnya.
Adanya peluang yang cukup besar dalam nilai ekspor, Kementan menargetkan untuk perluasan lahan porang, termasuk pengolahan turunannya menjadi tepung, dan bahan pangan alternatif pengganti beras.
Selain itu, pihaknya juga menghadirkan dukungan kepada petani porang dengan memberikan bantuan berupa bibit, pupuk, dan pendampingan kepada petani. Juga fasilitas pinjaman modal dengan bunga rendah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan total Rp86 miliar, di mana KUR dari BNI Rp36,2 miliar untuk 1.104 petani dan KUR dari BRI Rp49,8 miliar untuk 1.436 petani.
Sebagai informasi, luas eksisting porang tahun lalu sebesar 19.950 hektar dan pada tahun ini mencapai 47.461 hektar yang tesebar di 15 provinsi dengan target maksimal pada 2024 mejadi 100 ribu hektar. Rencana target tanam porang tahun ini sebesar 10 ribu hektar dengan sebaran di Provinsi Aceh 1.000 hektar, Jawa Barat 1.000 hektar, Jawa Tengah 1.500 hektar, Jawa Timur 3.000 hektar, NTT 1.000 hektar, NTB 500 hektar, dan Sulawesi Selatan 2.000 hektar.
Kapasitas Besar, Bahan Baku KurangDengan nilai ekspor cukup menggiurkan dan dukungan dari presiden, PT Asia Prima Konjac (Pabrik Porang) di Madiun juga terus berupaya untuk terus meningkatkan produtivitas pabrik mereka. Di mana saat ini pabrik tersebut mampu menyerap porang basah sebanyak 20.100 ton, dengan memproduksi dalam bentuk chip 2.800 ton dan powder 1.500 ton.
Direktur Utama PT Asia Prima Konjac, Revie Christianto Gozali mengaku, pabriknya juga berpotensi semakin berkembang dengan kapasitas penerimaan bahan porang 63 ribu ton per tahun. Diikuti dengan hasil olahan menjadi bentuk chips mencapai 9.000 ton dan powder 4.700 ton.
Pihaknya mengaku, saat ini masih terkendala dengan keterbatasan bahan baku porang sendiri. Sehingga ia berharap dapat memastikan ketersediaan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan pabrik.
“Jika memang bahan baku bisa dipastikan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pabrik, maka kami siap untuk menambah mesin untuk meningkatkan produktivitas. Kendala lain yang kami khawatirkan dari porang ini adalah harga buah yang semakin lama semakin naik cukup ekstrim. Jika harga buah porang ini terus mengalami kenaikan drastis, dikhawatirkan berpengaruh di skala internasional yang nantinya akan tergantikan dengan bahan lain yang lebih murah. Sehingga kita harus sama-sama menjaga harga porang,” ujarnya beberapa waktu lalu dalam Webinar Porang , Persiapan Masa Panen, Petani Porang Sejahtera, Industri Porang Mendunia.
Sementara itu, Staf Pembelian PT Asia Prima Konjac, Made Indra menjelaskan saat ini pabriknya memang baru berfokus untuk mengolah porang dalam bentuk chips. Tapi tidak memungkinkan ke depan juga akan melakukan inovasi baru dalam pengolahan turunan porang sesuai dengan arahan Jokowi.
Dari bahan baku dalam bentuk chips tersebut, bisa digunakan untuk berbagai macam produk inovasi, seperti kosmetik, jelly, pasta gigi, dan lapisan cat. Namun memang, kebanyakan pengolahan lanjutan dari chips digunakan untuk industri makanan.
“Proses di pabrik kami hingga menjadi
chips, melalui tahapan pembongkaran ubi yang kemudian dimasukkan ke mesin pencucian untuk proses pembersihan ubi, dan seterusnya akan masuk ke mesin potong. Maka setelah itu menghasilkan irisan porang dalam bentuk pipih dan dimasukkan ke mesin oven dan keluar sudah menjadi bentuk chips,” ujarnya dikanal Youtube Bakul Bibit Official.
Baca juga: Jokowi ke Mentan, Minta Pengolahan Porang Ditangani SeriusDalam sehari, pabrik porang asal Madiun ini mampu mengolah hingga 80 ton porang, yang rencana ke depan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 180 ton per hari. Pihaknya mengaku masih kekurangan untuk pemenuhan kebutuhan komoditas porang.
Dengan adanya permintaan yang terus meningkat, ia berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama petani porang. Sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pabrik dan permintaan pasar ekspor.
”Pabrik kami masih siap dengan kapasitas maksimum 210 ton per hari. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan membuka cabang baru, jika peluang di pasar terus meningkat. Kami juga sedang melalkukan tahap pengujian untuk produk olahan porang menjadi beras shirataki yang memerlukan pemantapan komposisi dan izin edar,” ujarnya.
Melalui porang, ia berharap dapat bersinergi dan terus didukung oleh pihak terkait, seperti pemerintah dan petani. Dengan maju industri pengolahan porang, diyakini mampu membuka lapangan kerja baru hingga di pelosok daerah.
“Menurut saya menananm porang tidak cukup sulit, jadi saya berharap para petani dapat memenuhi kebutuhan kami untuk porang. Permintaan dari luar negeri juga begitu banyak, jadi untuk memenuhi itu semua kita perlu melakukan kerja sama yang baik,” ujarnya.
(zul)