Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita

Bubur Asyura dan Selamatnya Nabi Nuh dari Banjir Bandang

fajar adhitya Jum'at, 20 Agustus 2021 - 18:23 WIB
Bubur Asyura dan Selamatnya Nabi Nuh dari Banjir Bandang
(foto: instagram/ rikkypw)
LANGIT7.ID - Umat Islam di Indonesia memiliki tradisi Bubur Asyura dalam menyambut 10 Muharram. Kebiasaan menyajikan bubur pada hari Asyura dilakukan masyarakat di berbagai daerah, di antaranya, Jawa, Kalimantan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Riau.

Metode dan penyajian Bubur Asyura juga berbeda-beda pada tiap daerah. Muslim Makassar misalnya, mereka membuat tujuh macam bubur yang diistilahkan bella pitun rupa, yakni bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu.

Bubur Asyura biasanya guna bersyukur atas berbagai nikmat Allah dan mengambil berkah dari beberapa peristiwa kenabian yang terjadi di bulan Muharram. Pada sisi lain ada juga yang menyajikan Bubur Asyura untuk mengenang wafatnya Sayyidina Husein bin Ali di Karbala.

Pagi hari setiap 10 Muharam, hampir setiap rumah penduduk di Jawa Barat memasak bubur merah dan bubur putih. Bubur Syiro itu lalu dibawa ke masjid bersama dengan beragam makanan ringan lainnya.

Bubur itu lalu didoakan, masyarakat melantunkan shalawat dan membaca kisah hidup Rasulullah dalam Maulid Barzani. Seusai al-Barzanzi dilantunkan, maka akan dibacakanlah manakib Husein bin Ali. Bubur Asyura biasanya dibagi-bagikan kepada tetangga dekat, disedekahkan atau dinimati bersama-sama.

Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin dalam Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan (2015) menuliskan, pada hari Asyura, seperti yang termaktub dalam I’anah al-Thalibin, Allah pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia.

Baca juga: Bubur Syuro Pitun Rupa, Tradisi Sambut 10 Muharram ala Makassar

Pada hari itu pula Allah mencipta Lauh Mahfuzh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Kemudian pada hari Asyura itu Allah juga mengangkat Nabi Isa alaihissalam ke langit.

Pada Asyura, Nabi Nuh turun dari kapal setelah berlayar sekian lama karena banjir bandang. Setelah banjir mereda dan kapal bersandar di daratan, Nabi Nuh bertanya kepada pada umatnya, "Masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?"

Kemudian mereka menjawab, "Masih ya Nabi". Nabi Nuh lantas memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang.

“Karena itulah kita mengenal bubur Asyura,” tulisnya.

Prof Ahmad menjelaskan, secara normatif, akar historis dari asal-usul tradisi bubur Asyura memang diperdebatkan validitasnya. Bahkan hal tersebut sama sekali tidak populer di kalangan ahli hadis maupun para imam mazhab terdahulu.

Hanya saja, dalam konteks kearifan lokal, tradisi ini dianggap banyak mengandung nilai-nilai moral dan budaya.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)