LANGIT.ID, Jakarta -
Musibah bukan berarti hukuman yang diberikan Allah Ta'ala kepada suatu kaum. Lewat musibah tersebut Rabb ingin memberikan pujian dan rahmat kebaikan-Nya.
Hal itu seperti disebutkan dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah ayat 155-157. Allah berfirman, yang artinya:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “
Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali).
Dan bagi orang-orang sabar itu ampunan dan pujian yang baik dari Allah, serta rahmat dan kebaikan. Mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk menuju kebenaran dan keridhaan Allah." (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Penceramah, Buya Yahya mengatakan, musibah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebab, Allah ingin mengangkat orang-orang beriman melalui sebuah musibah.
"Selain istighfar, Allah juga mengampuni dosa hamba-Nya di dunia melalui musibah. Sehingga bagi orang beriman, musibah akan menghadirkan kelegaan di dalam hatinya," ujar dia dikutip dari kanal YouTubenya, Ahad (4/12/2022).
Selain ampunan, lanjut dia, lewat musibah pula Allah ingin mengangkat derajat hamba-Nya. Dia ingin seorang hamba dapat menambah kadar keimanan dan semakin dekat kepada-Nya.
"Kalau sudah banyak istighfar, salat malam, dan menangis memohon ampunan tapi masih tertimpa musibah itu karena Allah sayang kepada hamba-Nya. Dia ingin mengangkat derajat orang itu dan kaumnya melalui sebuah bencana," tambahnya.
Dai berusia 49 tahun itu mengingatkan, agar kaum muslimin dapat mempraktikkan hal yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Yaitu memberi pertolongan dan meringankan beban saudaranya yang tengah tertimpa musibah.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah disebutkan bersama orang-orang sakit. Untuk itu, kaum muslimin juga dianjurkan untuk menjenguk dan memberi pertolongan semampunya.
“Wahai anak Adam. Saat Aku sakit, kenapa kau tidak menjenguk-Ku?” Orang itu menjawab, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mendoakan-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan sekalian alam?”
Allah menjawab, “Tidakkah kau tahu bahwa hamba-Ku si fulan itu sakit. Namun kau tidak menjenguk-Ku. Tahukah kau, kalau kau menjenguknya, kau akan mendapati Aku di sisinya.”
Maksudnya, “Kau akan mendapatkan ganjaran-Ku yang tak bertepi saking banyaknya.” (HR. Muslim).
(bal)