Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Melacak Akar Kebangsaan Indonesia

Muhajirin Sabtu, 21 Agustus 2021 - 15:37 WIB
Melacak Akar Kebangsaan Indonesia
ilustrasi nasionalisme (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarawan Muslim, Dr. Tiar Anwar Bachtiar, menjelaskan, konsep negara bangsa baru dikenal pada abad ke-19 dan ramai pada abad ke-10. Bahkan hampir semua negara menerapkan konsep tersebut.

Dia mencontohkan Asia Tenggara yang terdapat negara-negara yang mengklaim sebagai bangsa berbeda. Indonesia berarti bangsanya Indonesia. Malaysia bangsanya Malaysia. Demikian pula Brunei Darussalam hingga Filipina. Seolah-olah kawasan yang menjadi negara itu merupakan komunitas bangsa yang berbeda-beda.

“Hanya tentu saja perbedaan itu sifatnya bukan merupakan sesuatu yang hakiki. Artinya tidak beda beneran. Tapi satu perbedaan yang diciptakan oleh satu konsep yang disadari, kemudian itu menjadi collective memory (kesadaran bersama), bahwa kita ini beda dengan yang lain, misalnya kita sebagai Indonesia beda dengan Malaysia. Tapi itu bukan satu perbedaan yang hakiki,” kata Tiar dalam webinar melalui kanal youtube AQL Islamic Center, dikutip Jumat (20/8/2021).

Indonesia, Malaysia, Brunei, hingga Filipina memiliki kesamaan yang tidak bisa dipertentangkan. Apalagi kalau dikaitkan dengan konsep kebangsaan yang dibangun di Indonesia. Jadi, konsep kebangsaan ini merupakan satu konsep yang dikonstruksi, bukan konsep yang datang begitu saja dari langit.

Maka dari itu, konsep kebangsaan Indonesia merupakan hasil konstruksi historis. Indonesia diambil dari satu realitas sejarah yang tidak bisa dihindarkan. Kenyataan sejarah paling konkret adalah kawasan nusantara merupakan kawasan yang pernah dikuasai Belanda.

Berangkat dari situ, kolonialisme atau penjajahan menjadi dasar cara berpikir membentuk bangsa Indonesia. Tema kolonialisme menjadi dasar kesadaran nasional masyarakat Indonesia. Hal Ini bisa dilihat dari pemberian gelar pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang berjuang melawan kolonialisme agar hilang dari Tanah Air.

Artinya, yang disebut bangsa Indonesia adalah bangsa yang melepaskan diri dari kolonialisme Belanda. Semua yang terlibat dalam perlawanan itu dianggap sebagai tokoh pembangkit kesadaran nasional Indonesia. Maka, unsur-unsur nasionalisme Indonesia adalah segala bentuk yang berkenaan dengan pengusiran kaum penjajah.

Sejarah akan memaparkan tentang sosok yang melawan kolonialisme. Demikian pula pemahaman bahwa dalam konteks perlawanan melawan kolonialisme dibutuhkan semangat dan keberanian. Tidak serta-merta warga bangun tidur dan langsung angkat bambu runcing.

Terlebih lagi, pemerintah Belanda bertindak sangat pragmatis saat menjajah nusantara. Mereka hanya mencari keuntungan. Siapapun yang bisa membantu mendapatkan keuntungan itu, akan dijadikan mitra. Dalam sejarah disebutkan, tak sedikit masyarakat Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda.

“Pemerintah kolonial itu mengambil keuntungan dengan bantuan sebagian pemimpin-pemimpin formal, mulai dari raja-raja sampai kepala desa. Pertanyaanya, kalau pemimpin formal menjadi bagian kaki tangan Belanda, atas alasan apa mereka harus melakukan pemberontakan? tidak ada alasan, toh mereka juga sudah hidup nyaman, sudah sampai pada sesuatu yang mereka inginkan, sehingga agak sulit mencari alasan kenapa para kaki tangan belanda ini memberontak tuannya,” papar Tiar.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)