LANGIT7.ID, Jakarta -
Hustle culture adalah istilah yang berkembang dan sering digunakan di kalangan dunia kerja. Pola ini jadi toxic, karena menganggap lembur sebagai produktivitas.
Hustle culture adalah tuntutan
pekerjaan yang direspons secara profesional dan mengedepankan kualitas tinggi. Tujuannya agar tidak dinilai buruk oleh orang lain.
Psikolog UGM, Indrayanti menjelaskan, istilah hustle culture ini banyak digunakan dan berkembang di dunia kerja. Orang sebagai pekerja menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengejar karirnya.
Namun, ada dampak buruk yang bisa muncul dari kebiasaan ini, yaitu berkembangnya kondisi tersebut menjadi toxic productivity. Parahnya, kondisi ini tidak hanya terjadi pada dunia kerja, tapi juga pendidikan.
Baca Juga: 5 Pekerjaan Remote yang Diminati 2023, Jadi Tren Pascapandemi "Akhirnya timbul kekhawatiran di tengah workaholic, dengan menganggap produktif berarti mengharuskan mereka untuk kerja keras dan lembur," jelasnya dikutip laman UGM, Kamis (5/1/2023).
Menurutnya, situasi yang timbul atas kekhawatiran itu pada akhirnya dianggap sebagai sebuah gaya hidup atau budaya. Sehingga menjadikan generasi muda akhirnya menganggap produktivitas adalah seperti yang kebanyakan terlihat.
"Mereka akan menilai produktif adalah kerja keras dan terus melakukannya agar tidak tertinggal," ujarnya.
Sebaliknya, anggapan tersebut akan memandang mereka yang jarang mengambil jam lembur dinilai kurang produktif. Di sisi lain, hal ini menimbulkan kecemasan pada diri seseorang (insecure).
“Hustle culture itu mindsetnya adalah hidup untuk bekerja, sehingga aktivitas lainnya dinilai kurang penting dan jarang dilakukan," kata dosen Fakultas Psikologi UGM ini.
Hustle culture telah menjadi fenomena gaya hidup di kalangan workaholics. Mereka mendedikasikan kehidupan hanya untuk bekerja, sementara menyingkirkan hal lainnya.
Ciri-Ciri Hustle Cultre Ada ciri-ciri yang bisa dikenali dari hustle culture. Salah satunya adalah sering memikirkan pekerjaan di setiap waktu dan tempat.
Kondisi itu menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Hustle culture akan membuat orang tidak sempat memikirkan kehidupan mereka di luar pekerjaannya.
“Hustle culture menjadikan para pekerja tidak sempat memikirkan kebahagiaannya untuk diri sendiri. Sehingga mereka tak memiliki worklife balance,” ucapnya.
Selain itu, hustle culture juga akan menyebabkan orang merespons kondisi fisik dan psikis mereka dengan standar dirinya.
"Jarang merasa puas terhadap apa yang telah dikerjakan, sering merasa masih ada yang salah, dan harus terus bekerja agar sempurna," katanya.
Ambisius untuk terus aktif bekerja itu menyebabkan mereka tidak peka dengan sinyal-sinyal dalam tubuhnya. Bahkan sekalipun mereka merasakan kondisi tubuh yang kurang fit akibat bekerja terlalu berat.
"Sampai saat banyak stresor masuk, tubuhnya menjadi ambruk, stres, burnout, hingga terjadi kelelahan psikologis,” jelasnya.
Penyebab dan Cara Mengatasi Hustle CultureIndrayanti menjelaskan, istilah hustle culture kian populer seiring perkembangan media sosial. Di mana kebanyakan orang membagikan pencapaian mereka di media sosial, sehingga semakin memupuk perasaan insecure dan membandingkan diri dengan orang lain.
Adapun cara menyikapinya, lanjut dia, yaitu tetap terkoneksi secara riil dengan lingkungan. Upaya itu akan membuka pikiran masing-masing untuk meningkatkan kesadaran terhadap sebuah fenomena yang terjadi.
"Dengan begitu perasaan untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain bisa ditekan dan mencari solusi dengan berkolaborasi untuk berbagi kebermanfaatan kepada sesama," katanya.
(bal)