LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, Lc. MA. mulai dikenal secara lebih luas publik Indonesia saat dilantik menjadi rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2019-2023. Pertama kali dalam sejarah IAIN hingga menjadi UIN Jakarta, dinahkodai seorang rektor perempuan.
Wanita kelahiran Kairo, Mesir, 22 Desember 1963 itu menempuh pendidikan dasar hingga strata 1 di negeri piramida. Ia meraih gelar lulusan terbaik Licence Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan Sastra Inggris pada 1988. Setelah itu, ia melanjutkan strata II di UIN Jakarta dengan konsentrasi Sejarah Peradaban Islam.
Pada 2002, ia meraih gelar Doktor Pengkajian Islam/Sejarah Kebudayaan Islam dan meraih disertasi terbaik kedua nasional di lingkungan Departemen Agama RI. Pada 2006, ia meraih gelar Profesor Politik Islam. Kemudian mendapatkan Satyalencana Karyabhakti 20 tahun pada 2016.
Perjalanan KarirSebelum menjadi rektor, wanita yang akrab disapa Amany itu pernah menjabat sebagai sekretaris senat Universitas di UIN Jakarta. Pada periode 2003-2009, ia menjabat sebagai pembantu dekan bidang administrasi umum Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta sekaligus mengampu mata kuliah tarikh tasyri’ atau sejarah politik Islam. Dari situ, ia dianugerahi penghargaan sebagai dosen wanita terbaik wanita Fakultas FDI.
Mengutip laman bincangsyariah, pada 2011-2013 Prof Amany diangkat menjadi deputi direktur sekolah pascasarjana bidang pengembangan kelembagaan.
Prof Amany tak hanya meniti karir di lingkungan UIN Jakarta, sejak 2009 ia aktif sebagai dosen sekolah kajian stratejik dan global pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI). Tak hanya itu, ia lulus dengan pujian program pendidikan singkat (PPSA) XVIII dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada 2012. Pada 2013, mengampu program Pascasarjana Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan hingga saat ini.
Karya AkademikSebagai dosen dengan jam terbang padat, Prof Amany menulis banyak karya dan aktif menyuarakannya di berbagai forum internasional. Sampai saat ini, ia sudah menjelajahi 30 negara di lima benua. Sebuah pencapaian yang sangat fantastis.
Berapa perjalanan akademis yang pernah ia lakukan di antaranya ke Amerika Utara dan kanada untuk Short Course for Women’s Studies pada 1997. Ia juga menghadiri Kajian Ketahanan dan Pertahanan ke Mesir, Turki, Amerika Serikat, hingga Jepang.
Pada 2013, ia menjadi salah satu peserta seminar makanan halal di Australia dan New Zealand. Pada 2014-2015, ia berkunjung ke Maroko, Sudan, Lebanon, Iran, Turki, Yordania, dan Dubai untuk menghadiri seminar mediasi keluarga.
Pada 2015-2020, Prof Amany menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang perempuan, remaja, dan keluarga. Ia banyak berbicara membela ketidakadilan dan eksploitasi yang terjadi terhadap perempuan dan anak di berbagai forum. Atas jasanya itu, ia terpilih sebagai penerima UIN Woman Awards dari Pusat Studi Gender dan Anak UIN Jakarta.
Selain aktif sebagai dosen, ia tercatat sebagai anggota Board of Trustees Forum for Promoting Peace in Muslim Societies, Abu Dhabi pada 2016-2020. Maka itu, tak heran jika ia sering mengisi seminar internasional dan aktif sebagai interpreter bahasa Arab-Inggris-Indonesia dalam forum internasional.
Optimis Target Indonesia Emas 2045 Akan TercapaiDalam kutipan wawancara dengan LANGIT7.ID beberapa waktu lalu, Prof. Amany sangat optimis Indonesia bisa mencapai target Indonesia Emas pada 2045. Ia yakin banyak anak bangsa yang memiliki optimisme serupa.
“Syaratnya, harus bersatu padu, tidak bercerai-berai, kemudian jangan ada yang hanya berpangku tangan, sehingga tidak merusak hasil pembangunan yang sudah ada,” ucap Prof Amany.
Dia menyebut banyak anak bangsa yang memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan sosial dan teknologi. Itu terbukti dengan banyaknya anak bangsa yang berkiprah di perusahaan-perusahaan Jerman, perusahaan Korea, Amerika, dan berbagai negara maju lainnya.
Maka ke depan, kata dia, sarjana Indonesia yang berkiprah di luar negeri itu harus ditarik ke dalam negeri. Kemampuan dan pengetahuan mereka harus dioptimalkan untuk menyiapkan Indonesia Emas 2045.
Selain itu, syarat lain yang harus dipenuhi untuk mencapai target itu yakni menghormati kebhinekaan yang ada di Indonesia. Kebhinekaan merupakan kekuatan, sehingga semua anak bangsa harus saling menghormati. Kemudian, menjaga lingkungan hidup di Indonesia baik hutan, air, tanah, udara, maupun flora-fauna.
Jika syarat-syarat itu bisa dipenuhi, ia optimis peradaban Islam bisa berkembang di Asia Tenggara. Tentu Indonesia menjadi sentral peradaban tersebut. Ia menyebut Indonesia menjadi salah satu harapan besar umat Islam di seluruh dunia.
“Indonesia sangat dinanti oleh ummat Islam dimanapun. Kalau saya bepergian ke luar negeri, mereka sangat mengagumi Indonesia. Mereka mengatakan 'karunia Allah sangat banyak di Indonesia', maka kita harus bersyukur bahwa Indonesia menjadi harapan bagi seluruh dunia,” ucap Prof Amany.
(jqf)