LANGIT7.ID, Jakarta - Aliran diduga
sesat yang mengajarkan 'Bab Kesucian' sempat
viral di media sosial. Kementerian Agama pun langsung menyambangi lokasi penyebaran paham tersebut.
Kepala Kantor Wilayah
Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan (Sulsel), Khaeroni, bersama sejumlah pemangku kepentingan mendatangi Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah yang mengajarkan 'Bab Kesucian' yang diduga sesat.
"Beberapa pekan terakhir ini aliran dari Bab Kesucian viral di sosial media dan bahkan
Menteri Agama juga memantau aktivitas yang viral itu," kata Khaeroni dilansir
Antaranews dikutip Rabu (11/1/2023).
Dia mengatakan, sudah mengajak MUI dan Forkopimda Gowa hadir untuk berdialog dan mencari solusi terkait dengan viralnya aliran Bab Kesucian yang dianggap sesat ini.
"Seperti yang disampaikan pak menteri untuk dialog, klarifikasi dan verifikasi. Ini kami lakukan sebagai bentuk kehati-hatian dalam bertindak," katanya.
Selain itu, kakanwil menjelaskan bahwa dalam agama juga mengajarkan agar bekerja sesuai keahlian dan kemampuannya serta menghimbau kepada masyarakat agar sadar diri, agar introspeksi dan berbesar hati.
Dia pun mengajak masyarakat untuk membuka diri, meluruskan ajaran yang dinilai menyimpang dan menimbulkan keresahan. "Yang utama bahwa untuk berkegiatan di NKRI ini harus patuh pada regulasi yang ada," katanya.
Pimpinan Yayasan Nur Mutiara Makrifatullah Wayang Hadi Kusumo menjelaskan inti dari ajarannya 'Bab Kesucian' diambil dari salah satu ajaran Islam yakni Bab Thaharah, dan dasarnya dari kitab Ihya Ulumuddin.
"Sebelum melangkah ke ajaran inti agama Islam yang harus difahami terlebih dahulu adalah Bab Kesucian," ujar Hadi.
"Bahwa saya di NKRI, saya mendakwakan agama bahasa Indonesia, tapi bukan melarang menggunakan bahasa arab dalam peribadatannya," katanya.
Hadi juga membantah kabar viral bahwa ajaran Bab Kesucian melarang makan ikan, minum susu bahkan hingga salat. Dia meluruskan bahwa ajarannya ini hanya sebatas menganjurkan tidak makan daging.
"Ajaran kami hanya melarang keras memakan darah dan bangkai, karenanya kami di pondok hanya membiasakan tidak makan daging, tapi lebih kepada makanan yang berbasis nabati atau vegetarian," ujar dia.
(bal)