LANGIT7.ID, JAKARTA - Populasi warga di China turun untuk pertama kalinya sejak 1961. Ini menandai perubahan bersejarah dalam periode panjang penurunan jumlah warga di China.
Menurut data resmi Biro Statistik Nasional Beijing, Selasa (17/1/2023) China sebagai negara terpadat di dunia memiliki 1,4 miliar penduduk kini menghadapi
krisis demografi yang meningkat. Populasi turun 850.000 dari 2021 pada 2022. Kematian di China dilaporkan lebih tinggi daripada kelahiran.
"Pada akhir 2022, populasi nasional di angka 1.411,75 juta (termasuk populasi di 31 provinsi, daerah otonom, dan kotamadya), turun 0,85 juta dari akhir 2021," tulis NBS, melansir dari NBC.
Baca juga: BPS DKI Jakarta: Jumlah Penduduk Miskin di Ibu Kota Turun 4,61 PersenData tersebut tidak termasuk penduduk Hong Kong, Makau, dan Taiwan, serta orang asing yang tinggal di 31 provinsi, daerah otonom, dan kotamadya.
Menurut Direktur NBS, Kang Yi, penurunan jumlah
penduduk China pada 2022 disebabkan oleh kurangnya kelahiran baru serta penurunan intensi fertilitas, penundaan perkawinan, dan persalinan.
“Tren ini akan terus berlanjut. Tapi masyarakat tidak perlu terlalu khawatir, karena masalah utamanya adalah apakah populasi, struktur demografis, dan sistem industri cocok,” kata Direktur NBS Kang Yi.
Kang Yi menyebut, pasokan tenaga kerja di China secara keseluruhan masih lebih besar dari permintaan. "Jadi itu tidak berarti begitu total populasi menurut dan bonus demografi hilang," tutur Yi.
Baca juga: DPR Desak BPOM-Kemenkes Buat Regulasi Ancaman Bahaya Vape Liquid Sebagai informasi, angka kelahiran di China menurun hampir 10 persen di 2022 dari 2021. Pada 2021 10,6 juta bayi lahir, sementara di 2022 hanya 9,56 juta.
(sof)